Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengenal Lebih Dekat Pura Tamba Waras Bali yang Berawal ketika Raja Tabanan Sakit Keras

I Putu Mardika • Rabu, 27 Desember 2023 | 14:04 WIB
Proses melukat di Penglukatan Sapta Gangga, Pura Tamba Waras, Desa Sangketan, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali.
Proses melukat di Penglukatan Sapta Gangga, Pura Tamba Waras, Desa Sangketan, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali.

BALI EXPRESS- Pura Tamba Waras merupakan salah satu tempat suci umat Hindu yang terletak di Desa Sangketan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali.

Pura Tamba Waras dikenal sebagai tempat malukat dengan Penglukatan Sapta Gangga. Di pura ini juga terdapat berbagai jenis tumbuhan yang berkhasiat obat.

Secara geografis Pura Tamba Waras terletak di lereng sebelah selatan Gunung Batukaru. Pura ini berada satu garis dengan Pura Luhur Batukaru, terletak pada ketinggian sekitar 7 meter dari permukaan laut.

Pura ini berdiri sekitar abad ke -12. Menurut beberapa catatan sejarah, Raja Tabanan yakni Cokorda Tabanan sakit keras dan tidak ditemukan pengobatannya.

Para abdi mencarikan obat sesuai dengan petunjuk gaib yang diterima, yaitu akan ada asap sebagai petunjuknya.

Setelah berjalan di hutan Batukaru, dijumpai asap mengepul yang berasal dari sebuah kelapa di tanah di dalam rumpun bambu.

Setelah memohon di tempat itu didapatkanlah obat. Obat tersebut dihaturkan untuk sang raja.

Ternyata sang raja sembuh, akhirnya dibangunlah tempat pemujaan yang diberi nama Tamba waras

Pangempon Pura Tamba Waras, Jro Mangku Wayan Nantra menjelaskan Panglukatan Sapta Gangga, Beji Panglukatan Sapta Gangga dibangun berdasarkan pawuwus Ida Batara pada 2015 , menjelang pujawali di Pura Luhur Tamba Waras yang jatuh pada Buda Umanis Prangbakat.

Karena adanya pawisik Ida Batara, krama pangempon Pura Luhur Tamba Waras kemudian membuat ritual khusus nyanjan, yakni nedunang (menghadirkan) Ida Batara untuk bicara melalui raga Jero Dasaran.

Lokasinya berada di bawah Palinggih Pasraman Sari, yang posisinya di sebelah selatan wantilan.

Ia menjelaskan, Panglukatan Sapta Gangga adalah tujuh sumber mata air suci yang difungsikan sebagai tempat memohon penyucian diri secara lahir dan batin, memohon obat (nunas tamba), kerahayuan, kesehatan, kebijaksanaan untuk mencapai kesejahteraan.

“Masing-masing pancuran tersebut ialah tirtha Sanjiwani, Kamandalu, Kundalini, Pawitra, Maha Pawitra, Pengurip, dan tirtha Pasupati,” ungkapnya.

Sebelum melakukan panglukatan diawali dengan menyiapkan sarana bungkak nyuh gading dan nyuh gadang, banten pejati.

Pelaksanaan panglukatan diawali dengan ngaturang bhakti sembahyang atau berdoa terlebih dahulu.

Kemudian melaksanakan panglukatan ketujuh pancoran yang ada di Pura Tamba Waras atas petunjuk pamangku.

Setelah melakukan panglukatan ke tujuh pancoran tersebut dilakukan panglukatan dengan bungkak nyuh gading oleh pamangku.

Menurut Jro Mangku Wayan Nantra bila penyakitnya sudah kronis atau nonmedis dilanjutkan dengan sembahyang di jeroan dan minum air bungkak nyuh gadang yang sebelumnya didoakan /diberi puja mantra terlebih dahulu oleh pamangku serta dicampur dengan minyak kelapa.

“Banyak yang meyakini, penglukatan Sapta Gangga ini memiliki kekuatan vital yang dapat menyembuhkan penyakit secara medis dan non medis (sekala dan niskala),” ungkapnya.

Selain dijadikan tempat malukat, di Pura Tamba Waras ini juga diyakini semua jenis tanaman yang tumbuh di kawasana pura dapat dijadikan bahan dalam meramu tamba/obat tradisional Bali.

Tanaman yang tumbuh di sekitar areal tempat suci diyakini memiliki kekuatan spritual dalam menyembuhkan warga yang memohon tamba/obat kepura ini.

Meski demikian, secara khusus ada beberapa jenis tanaman yang sudah diolah menjadi obat dan sudah diproduksi di Pura Tamba Waras.

Jenis obat itu adalah jenis obat untuk diminum dan jenis obat untuk dipakai pijat/urut.

Kedua obat ini berwarna kuning bening. Sekarang kedua jenis obat ini sudah bisa diperoleh setiap saat sesuai dengan permohonan masyarakat.

“Biasanya masyarakat setelah selesai sembahyang di Pura Tamba Waras bisa langsung mohon obat dengan menghaturkan sajen dan sesari sesuai kemampuan. Setelah itu diberikan oleh petugas, dua jenis obat beserta petunjuk pemakaian obat,” paparnya. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #Pura Tamba Waras #hindu #malukat #tabanan