BALI EXPRESS- Banyak sastra agama Hindu telah memberikan ulasan bahwa kegiatan berderma adalah hal yang sangat utama. Berderma tentunya bagian dari perbuatan dharma.
Berderma dapat meningkatkan tali kasih antara satu manusia dengan manusia lainnya.
Setiap manusia diharapkan menumbuhkan perilaku berderema sejak dini agar nantinya damai dalam balutan aksi memberi salalu terjalin.
Dengan demikian, perbuatan berderma juga merupakan bagian dari investasi karma baik yang dapat dinikmati hasilnya, baik dalam kehidupan saat ini maupun yang akan datang.
Kegiatan berderma sejatinya juga berkedudukan sebagai jalan untuk saling menyelamatkan.
Berderma yang dilakukan dengan cara memberi secara tulus ikhlas, dapat membantu seseorang.
Hal tersebut diungkapkan oleh Penyuluh Agama Hindu di Bali Made Danu Tirta.
Danu Tirta menerangkan, apabila kegiatan berderma diperuntukan bagi orang yang memerlukan, maka objek derma akan sangat berarti kedudukannya.
Orang yang memang memerlukan uluran tangan, akan tertolong dan berlanjut kehidupannya dengan aksi derma oleh kaum dermawan.
"Sehingga, sikap menjadi salah satu pertolongan utama yang menjamin keberlanjutan hidup setiap orang. Hal ini menjadi dasar bagi kelompok sosial untuk memilih aksi memberi (berderma) sebagai kegiatan pilihan untuk menggerakan kelompok mereka," jelasnya.
Namun, banyak orang yang tidak percaya dengan manfaat berderma. Berderma hanya dipandang pengeluaran secara cuma-cuma tanpa adanya manfaat pasti bagi orang yang melaksanakan derma.
Hal ini menjadikan kegiatan berderma tidak dipandang sebagai kegiatan bermanfaat untuk dilakukan.
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa, banyak orang yang memerlukan uluran tangan (bantuan), namun tidak tersentuh bantuan.
Realitas ini menyebabkan kemelaratan, kemiskinan, kelaparan terus berlanjut, khususnya bagi orang yang memang tidak mampu.
Permasalahan di atas memerlukan penyadaran kembali tentang manfaat luhur dari kegiatan berderma.
Umat Hindu sebagai penganut agama kasih wajib mengembangkan rasa peduli dan kasih sayang salah satunya melalui aksi berderma.
Manfaat spesifik dari berderma, disinggung dalam kitab Sarasamuccaya terbitan Ditjen Bimas Hindu sloka 30 yang mengatakan bahwa sebagai berikut:
Apan Ikang balakośa wāhana, tumĕkākĕn āwaknya ya ri sang puṇyakarma, kadi kramaning maṇḍuka, an parākĕna āwaknya ring sumur, mwang ikang manuk, an tĕkākĕna āwaknya ring talaga.
Baca Juga: Menkumham Yasonna Laoly Melengkapi Sistem Identifikasi Wajah di Bandara Ngurah Rai
Terjemahannya:
Sebab, rakyat/masyarakat, barang-barang, dan transportasi akan datang sendiri pada orang yang selalu berderma.
Bagai perilaku katak yang pergi mendekatkan dirinya pada sumur dan bagai burung yang mendekatkan dirinya pada telaga.
Petikan kitab Sarasamuccaya sloka 30 itu mengatakan bahwa perbuatan derma adalah sebagai pemikat.
Setiap orang yang ikhlas dan dengan kesadaran penuh melaksanakan dharma, pada nantinya didekati oleh aspek sosial, material, termasuk bantuan.
"Secara lebih lanjut, Sarasamuccaya 30 menganalogikan hal tersebut ibarat keberadaan sumur yang selalu didekati oleh katak, begitu juga halnya dengan telaga yang selalu didekati oleh burung," jelasnya.
Makna yang dapat dipetik dari sloka di atas adalah bahwa orang yang rajin berderma akan selalu diingat dan disegani setiap orang. Kegiatan berderma, mampu menyentuh rasa haru bagi orang yang menyaksikan.
Di sisi lain, mampu melahirian kebanggaan tersendiri bagi orang yang menyaksikan. Hal ini menyebabkan orang yang melakukan aksi berderma, disukai atau disegani oleh orang lain.
Tidak jarang, orang yang aktif melaksanakan aksi berderma pada nantinya akan menjadi pilihan untuk memimpin sebuah kelompok, ataupun sebagai panutan bertingkah laku dalam kehidupan sosial.
Orang yang aktif berderma juga mudah mendapatkan bantuan baik secara sosial maupun finansial.
Hal ini tidak terlepas dari aspek realasi sosial yang muncul ketika pelaku dherma disegani banyak orang.
Ketika orang yang rajin berderma memerlukan bantuan secara materi, maka hal tersebut akan datang dari berbagai sumber.
Sumber dalam konteks ini tentunya terdiri dari orang yang pernah ditolong. Di sisi lain, datang pula dari orang yang terinspirasi atau menaruh rasa bangga terhadap sosok dermawan itu sendiri.
Melihat pentingnya kedudukan berbuat derma, hendaknya mampu memberikan inspirasi bagi umat Hindu untuk menjadikan aksi berderma sebagai habitus hidup.
Aksi berdema pada nantinya merupakan sumber kehidupan, menjadi secercah harapan untuk keberlanjutan hidup seseorang.
"Melalui aksi berderma, maka segala kebaikan akan datang secara otomatis, ketika pelaku derma itu sendiri memerlukan bantuan. Dengan demikian, perbuatan derma merupakan pemikat utama sirkulasi karma sekala yang terjadi di dunia ini," pungkas Danu Tirta. (*)
Editor : I Made Mertawan