Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sloka 31 Sarasamuscaya: Melatih Ketenangan dan Konsistensi Diri Menurut Hindu

Putu Agus Adegrantika • Sabtu, 6 Januari 2024 | 18:19 WIB
PENYULUH : Penyuluh Agama Hindu, Made Danu Tirta ungkap makna Sloka 31 Sarasamuscaya soal ketenangan dan konsistensi diri.
PENYULUH : Penyuluh Agama Hindu, Made Danu Tirta ungkap makna Sloka 31 Sarasamuscaya soal ketenangan dan konsistensi diri.

BALI EXPRESS - Setiap orang yang dilahirkan ke dunia ini diharapkan memiliki sifat tenang. Ketenangan menandakan adanya stabilitas jiwa, atau berprosesnya pola pikir kritis yang akhirnya memberikan keamanan pada setiap langkah.

Orang yang memiliki sifat tenang, berpeluang menemukan celah-celah kemenangan dan kemajuan lebih banyak. Ibarat halnya ketika ingin melihat isi danau, maka air di permukaan danau wajib tenang dan jernih.

Dengan demikain, ketenangan sangat diperlukan untuk pengambilan langkah atau keputusan terbaik dalam hidup. 

Penyuluh Agama Hindu, Made Danu Tirta, mengatakan, orang yang tidak berpegang pada ajaran kebenaran akan mudah tergoyahkan.

Segala bentuk ikatan duniawi seakan-akan mudah menyertainya untuk berjalan keluar dari derap barisan prinsip hidup ataupun cita-cita luhur yang telah ditetapkan sebelumnya. 

"Usaha untuk berbuat baik sering kali digelapkan oleh perilaku tidak baik, yang memang mampu memberikan kepuasan duniawi secara cepat bagi setiap manusia," jelasnya.

Permasalahan ini menyebabkan banyaknya umat dilanda kekalutan berpikir. Sehingga menyebabkan nihilnya kemampuan maupun kemauan untuk merealisasikan perbuatan baik sebagai sumber ketenangan dan keamanan diri. 

Permasalahan di atas menuntut adanya pembiasaan terhadap ajaran dharma. Mengingat, orang yang teguh berjalan di jalan dharma pada nantinya akan diberikan imbalan tersendiri termasuk ketenangan. 

Hal ini dijelaskan Sarasamuscaya sloka 31 dalam buku yang diterbitkan Ditjen Bimas Hindu.

Sloka tersebut mengatakan: “Matangnya deyanika sang mengĕt, apagĕh kadi tan kĕneng pāti, lwiraniran pangarjana jñāna, artha, kunang yan pangarjana dharma, kadi katona rumanggut mastakanira, ta pwa ikang mrĕtyu denira, ahosanā palaywana juga sira.”

Terjemahannya :

Oleh karena itu, orang-orang yang sadar diri, tenang kokoh seperti terhindar dari kematian. Seumpama pada orang yang sedang menuntut ilmu. Adapun orang yang mengejar dharma/kebenaran, seperti terlihat bahwa bahaya akan merenggut kepalanya, namun, walau dengan terengah-engah berlari juga ia (untuk mengejar harapannya).

"Ulasan kitab Sarasamuccaya sloka 31 di atas memberikan penjelasan bahwa perilaku dharma menstimulus ketenangan diri. Jalur dharma yang dipilih oleh seseorang memposisikan dirinya pada jalan kebenaran, bukan kekeliruan, terlebih lagi kesalahan," bebernya.

Keyakinan atas posisi diri pada jalur kebenaran, secara otomatis hanya mendatangkan kedamaian dan ketenangan itu sendiri. Sehingga, setiap orang yang konsisten melaksanakan ajaran dharma akan selalu memunculkan perilaku tenang dalam menghadapi berbagai problematika hidup. 

Orang yang telah yakin bahwa dirinya berada pada jalur dharma, maka akan mengarah pada kemenangan. Kebenaran sebagai esensi dari dharma, merupakan modal pokok untuk mengklaim sebuah kemenangan. Orang dapat dikatakan unggul, menang, dan lebih baik secara kualitas maupun kuantitas apabila sudah berada pada jalur kebenaran. 

Kebenaran yang merupakan kemenangan tentunya memberikan rasa aman pada diri. Sehingga ketenanganpun dapat selalu tercipta pada orang yang teguh melaksanakan dharma. 

Setiap manusia hendaknya selalu membiasakan diri untuk melaksanakan perbuatan dharma, agar nantinya mlahirkan jiwa-jiwa tegar sebagai pejuang kemenangan.

"Dengan demikian, hasil dari perbuatan dharma tidak saja ketenangan personal, namun juga kemenangan diri baik dalam konteks spiritual maupun material," pungkas Danu.

Editor : Nyoman Suarna
#Sarasamuscaya #sloka 31 #ketenangan #hindu