Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sloka 32 Sarasamuscaya: Rahasia Kematian dan Tantangan Berbuat Dharma

Putu Agus Adegrantika • Selasa, 9 Januari 2024 | 16:08 WIB
RAHASIA: Bilamana orang mengetahui tentang kematian mungkin tiada lagi hasratnya melaksanakan perilaku adharma.
RAHASIA: Bilamana orang mengetahui tentang kematian mungkin tiada lagi hasratnya melaksanakan perilaku adharma.

BALI EXPRESS - Perbuatan dharma merupakan investasi karma. Perbuatan dharma menjadi bagian dari perilaku hidup manusia, yang nantinya terekam hingga manusia ada pada posisi keberlanjutan dari proses kematian.

Segala bentuk perbuatan baik atau dharma yang dilakukan oleh manusia, pada nantinya terekam baik secara sekala maupun niskala.

Rekaman niskala akan menjadi pegangan pokok sang jiwa menuju Brahman.

Hal ini sejatinya telah memberikan kesadaran bagi manusia tentang pentingnya melaksanakan perbuatan dharma di dunia ini. 

Penyuluh Agama Hindu, I Made Danu Tirta, menjelaskan, apabila seseorang mengerti akan manfaat niskala dari dharma, maka orang itu akan takut melaksanakan adharma.

Ulasan sebelumnya telah menjelaskan bahwa dharma bertautan dengan perjalanan jiwa setelah kematian terjadi.

Manusia dalam masa hidupnya, terkadang juga memiliki cita-cita terkait dengan kematiannya. Keinginan untuk mencapai alam surga ataupun moksa cenderung menjadi salah satu pilihannya.

Hal ini selaras dengan ulasan dalam kitab Sarasamuscaya Sloka 32.  Dalam kitab Sarasamuscaya yang diterbitkan Ditjen Bimas Hindu,  Sloka 32 menyebutkan: 

“Yan wruha ktikang wwang an nirantarānginte manunggang ri mastakanya ikang mrĕtyu, yaya tan hyunanya mangana tuwi, ngūni-ngūni magawayaning adharma.”

Artinya: 

Bilamana orang mengetahui tentang kematian yang tak akan henti-hentinya berkecamuk di kepala/pikirannya, mungkin tiada lagi hasratnya akan makanan atau pun untuk melaksanakan perilaku adharma.

Kitab Sarasamuscaya Sloka 32 menjelaskan bahwa kematian adalah rahasia. Tidak seorangpun mengetahui hari kematiannya. Di sisi lain, tidak ada yang menduga tentang proses kematiannya terjadi.

“Kematian menjadi salah satu proses hidup yang tidak pernah dapat terungkap oleh manusia, selain kelahiran, jodoh, dan arah perjalanan hidup. Apabila selalu dipikirkan, maka kematian mendatangkan rasa takut pada seseorang,” jelasnya.

Ketakutan ini dikarenakan oleh berakhirnya kenikmatan hidup yang selama ini dirasakan, serta dihantui oleh kesendirian paska kematian terjadi.  Kematian membawa investasi karma secara niskala.

Apabila manusia dalam hidupnya tekun melaksanakan dharma, maka investasi karma baik yang akan dibawa oleh jiwa menuju brahman.

Sebaliknya, apabila manusia hanya memiliki investasi karma buruk, maka itu pula yang akan dibawa oleh jiwa manusia menuju Tuhannya.

 Sehingga, kematian adalah hal yang sangat melekat dan selalu berkorelasi dengan baik buruknya karma manusia dalam dunia sekala. 

Perbuatan dharma membawa arah jiwa pada surga bahkan moksa. Mengingat, hukum dualitas mengenai karma (subha karma dan asubha karma) turut menentukan arah jiwa paska kematian. Jiwa-jiwa yang dihiasi dengan subha karma akan sampai pada surga dan moska.

Begitu juga sebaliknya, apabila karma manusia didominasi oleh asubha karma maka neraka loka akan bersedia menjadi pelabuhan jiwanya paska kematian terjadi. 

Berpijak pada hal tersebut di atas, maka kematian yang bersifat rahasia dan membawa bekal berupa rekaman karma, akan menguji kesetiaan seseorang melaksanakan dharma.

Orang yang apatis terhadap kematian, cenderung memandang bahwa hidup ini wajib dihiasi dengan kompleksitas jenis perbuatan.

“Konteks perbuatan tersebut tertuju pada perbuatan baik maupun buruk. Bahkan, manusia cenderung memandang perbuatan buruk sebagai perbuatan bernuansa  ‘nikmat’

dan memberi pemuas duniawi, wajib didominasi sebelum kematian datang menjemput,” jelas Danu.

Sedangkan manusia yang menyadari tentang pelik dan rahasianya kehidupan setelah kematian, akan berusaha sekuat mungkin untuk selalu berbuat dharma agar jiwanya terarah menuju surga ataupun moksa.

“Oleh sebab itu, manusia Hindu hendaknya selalu teguh memperkuat bekal kematian dengan cara konsisten melaksanakan dharma. Agar nantinya kelahiran setelah kematian dapat berasal dari sorga, atau bahkan mampu menyatu dengan Brahman,” pungkasnya.

Editor : Nyoman Suarna
#kematian #Sarasamuscaya #sloka 32 #Dharma