BALI EXPRESS - Malam Siwaratri dikenal sebagai malam penebusan dosa yang merujuk pada cerita Sang Lubdaka.
Pada hari ini umat Hindu melaksanakan yadnya dan persembahan dengan tujuan menyucikan pikiran dan menumbuhkan kesadaran diri. Selain itu juga dilaksanakan brata Siwaratri.
Penyuluh Agama Hindu, Ida Bagus Putu Wiadnyana Manuaba, menerangkan, brata yang dilaksanakan pada malam Siwaratri terdiri dari tiga jenis yaitu nista, madya, dan utama.
“Tingkatan nista dapat dilaksanakan dengan jagra, yaitu tidak tidur selama 24 jam, mulai pukul 06.00 pagi hari sampai 06.00 keesokan hari setelah hari Siwaratri,” jelasnya.
Kemudian pada tingkatan madya, dapat dilaksanakan dengan jagra dan upawasa. Yaitu tidak tidur dan tidak makan serta minum selama 24 jam.
Sedangkan ketiga adalah tingkatan utama dilakukan dengan jagra, upawasa, dan monobratha.
“Monobrata, yaitu tidak berbicara selama 24 jam dan berdiam diri. Dalam pelaksanaannya seseorang tidak tidur, tidak makan, dan tidak berbicara selama 24 jam selama siwaratri,” tegas Ida Bagus Manuaba.
Hari suci Siwaratri merupakan salah satu hari baik yang menjadi momentum umat Hindu melaksanakan persembahyangan.
Siwa Ratri berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari dua kata yaitu “Siwa” dan “Ratri”.
“Siwa” merupakan nama dari salah satu manifestasi Tuhan sebagai Dewa Pelebur, sedangkan “Ratri” berarti malam atau gelap.
Hari Siwaratri jatuh pada panglong ping 14 sasih kapitu tepat sehari sebelum Tilem Kapitu.
Hari Siwa Ratri sering digadang-gadang sebagai malam penebusan dosa, merujuk pada cerita Sang Lubdaka.
Lubdhaka adalah seorang pemburu binatang yang kesehariannya melakukan pembunuhan (Himsa Karma). Namun saat Dewa Siwa beryoga pada malam Siwaratri, tanpa sengaja dia tidak tidur dan lupa makan karena takut terjatuh dari pohon bila, untuk menghindari dimangsa harimau.
Melakukan brata tanpa sengaja ini membuat dosanya dilebur dan mengantarkannya ke sorga.
Karena itu malam Siwaratri ini menjadi momentum penyadaran diri dengan melebur perbuatan buruk (asubha karma) ke dalam perbuatan baik (subha karma).
Ibarat air garam di dalam gelas, semakin banyak kandungan garam di dalam gelas maka rasa asinnya akan semakin kuat. Namun apabila kandungan airnya diperbanyak terus maka rasa asin akan semakin berkurang sampai terasa tawar, meskipun kandungan garamnya tetap ada.
Garam atau asin sebagai asubha karma dan air sebagai subha karma. Pengendalian pikiran dan kesadaran diri membuat kita harus menentukan mana yang harus diperbanyak.
Editor : Nyoman Suarna