BALI EXPRESS - Krama yang nangkil selama rangkaian ngusaba lina atau ngusaba pitra berasal dari berbagai pelosok Bali.
Sesuai tradisi, umat Hindu di Bali yang hendak tangkil biasanya membawa sesodaan.
Sarana ini menjadi persembahan penting untuk diberikan kepada para leluhur.
Pemangku Pura Dalem Puri, Gusti Anglurah Mangku Kebayan Alitan, menjelaskan, para pemedek bebas memilih titik lokasi di areal Pura Dalem Puri untuk menghaturkan sesodaan atau sesajen kepada para leluhurnya saat Ngusaba Lina atau Ngusaba Pitra.
Setelah menghaturkan sesajen, tidak jarang para pemedek melakukan acara makan bersama di areal pura.
Hal ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur bahwa para pratisentananya (keturunannya) masih ingat dengan leluhurnya.
Bahkan, tidak jarang pemedek yang nangkil selalu mengupayakan titik lokasi yang sama dari tahun-tahun sebelumnya.
Bahkan, sudah menjadi tradisi mereka memilih titik lokasi tersebut, dengan pertimbangan agar para leluhur mereka tidak bingung mencarinya.
“Kalau ngusaba pitra, dimanapun boleh melakukan persembahan banten sesodaan, baik yang sudah diaben maupun yang belum. Tetapi pada hari-hari lain yang bukan saat ngusaba pitra, roh yang belum diaben wajib dihaturkan persembahan di jaba,” katanya.
Hal ini didasari keyakinan bahwa saat ngusabha pitra pintu sekala niskala sudah dibuka sepenuhnya untuk para pitara, baik yang sudah bersih (diaben) maupun belum diaben sehingga sepenuhnya bisa masuk.
“Tidak jarang setelah sembahyang di Pura Dalem Puri, pemedek juga sekalian nangkil ke Pura Besakih, dan Pura Pedarman. Karena memang jaraknya berdekatan,” tutupnya.
Editor : Nyoman Suarna