BALI EXPRESS - Tari Baris Sumbu merupakan bagian tari wali Bali, dalam kaitannya dengan upacara Neduh di Desa Adat Semanik, Desa Pelaga kecamatan Petang.
Sesuai tradisi, tarian ini harus dipentaskan pada saat upacara Neduh karena merupakan bagian yang tak terpisahkan dari rangkaian upacara Neduh.
Tari Baris Sumbu, menurut Bendesa Adat Semanik, Gusti Lanang Umbara, diwariskan secara turun-temurun. Dengan keyakinan yang dimiliki masyarakat, tarian ini berupaya dipertahankan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.
“Diberi nama tari Baris Sumbu, karena dalam pementasanya para penari mengunakan sarana utama berupa sumbu,” paparnya.
Sumbu dibuat dari sebatang bambu yang ujungnya berbentuk bulat. Di dalamnya berisi berbagai sarana upacara seperti tipat atau ketupat, bantal, blayag dan sebagainya.
Ketupat atau tipat dilambangkan sebagai pradana atau simbul wanita (vagina), sedangkan bantal adalah simbol purusa atau laki-laki (phallus). Bantal terbuat dari campuran ketan yang dibungkus dengan daun kelapa berbentuk panjang.
Tipat dan bantal ini sebagai simbol penyatuan antara laki-laki dengan perempuan yang diharapkan memberi anugerah berupa kesuburan, kemakmran, kebahagiaan bahkan kekuatan.
Sarana upacara yang juga sangat penting dalam pementasan Baris Sumbu di Desa Adat Semanik adalah sapsap yang diikatkan di sumbu.
Sasap merupakan simbol yang disetarakan dengan cili. Sarana cili merupakan simbol Dewi Padi atau Dewi Sri sebagai lambang kesuburan.
Tari Baris Sumbu menggunakan sarana terbuat dari bambu yang ujungnya dibentuk bulat seperti sumbu. Sumbu ini biasanya digunakan masyarakat untuk memetik buah mangga atau papaya yang sulit dijangkau dengan tangan.
Sumbu yang berjumlah 4 buah dihias dengan kain putih dan kuning yang diikatkan di setiap pojok bale panggungan. Panjang bambu sekitar 2 meter.
Di dalam sumbu tersebut diisi ketupat, jajan bantal, blayag, tipat nasi, bantal pudak, bantal sesapi, bantal metekor, satuh dan iwel.
“Saat upacara neduh, semua masyarakat yang hadir akan membawa tegteg berisikan blayag beserta sanganan raka-raka dan sujang yang akan digunakan untuk nunas tirta atau membawa air suci,” imbuhnya.
Editor : Nyoman Suarna