Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pembagian Banten untuk Upakara Yadnya di Bali, Penyuluh Agama Hindu Sebut Seperti Ini

Putu Agus Adegrantika • Rabu, 17 Januari 2024 | 19:14 WIB
BANTEN: Pelaksanaan upacara yadnya menurut agama Hindu di Bali tak dapat dipisahkan dari sarana upakara berupa banten.
BANTEN: Pelaksanaan upacara yadnya menurut agama Hindu di Bali tak dapat dipisahkan dari sarana upakara berupa banten.

BALI EXPRESS - Upakara yadnya merupakan realisasi karma dan bhakti umat Hindu ke hadapan Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya.

Selain itu juga merupakan wujud bhakti kepada Bhatara -Bhatari bahkan kepada sesama ciptaan Tuhan. 

Sebab, di dalam yadnya terkandung nilai pengorbanan, ketulus-ikhlasan, kesucian hati dan sikap tanpa pamrih untuk mempersembahkan sesuatu. 

Dalam konteks ritual atau upacara, yadnya tidak bisa dipisahkan dengan upakara. Sebab upakara merupakan bahan atau material yang akan menjadi wujud konkret dari persembahan itu.

Penyuluh Agama Hindu, Ni Luh Cesi mengatakan, upakara memang dapat diklasifikasi dari berbagai segi, yaitu dari bahan atau material, sumber dan tata letaknya. 

“Dalam kitab suci Bhagavadgita, IX.26 disebutkan, siapa saja yang sujud kepada Aku dengan persembahan sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan, seteguk air, Aku terima sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci,” terang Cesi. 

Apa yang disebutkan dalam Bhagavadgita, kata Cesi, dapat diartikan bahwa upakara tersebut meliputi beberapa jenis bahan atau material.

Daun, misalnya, merupakan patram,  bunga merupakan puspam, buah adalah phalam, sedangkan air adalah toyam. 

“Sarana yang disebutkan ini merupakan inti dari suatu persembahan atau persembahyangan. Akan lebih lengkap lagi jika ditambah dengan api atau angin,” imbuhnya. 

Lebih jauh Cesi menerangkan, melihat tata letak upakara atau banten dapat juga dibedakan atas tiga tempat, yaitu bagian atas, tengah dan bagian bawah. 

Pertama banten yang digolongkan di bagian atas adalah banten yang ditempatkan pada Sanggar Surya. Khususnya pada Palinggih dan pada Sanggar lainnya. Kelompok banten yang diletakkan di tempat-tempat tersebut merupakan simbolisasi dari hulu Hyang Widhi yang disebut Uttamangga. 

Kedua banten yang digolongkan di bagian tengah adalah banten ayaban dan banten pada Panggungan yang merupakan simbolisasi dari badan Hyang Widhi yang disebut dengan Madhya-angga.

Sedangkan ketiga adalah banten yang digolongkan di bagian bawah, yaitu banten caru, banten sor surya, banten byakala, banten paningkeb dan segehan.

“Banten ini merupakan simbolisasi dari kaki Hyang Widhi yang disebut Nistha – Angga,” pungkas Cesi.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #yadnya #Banten #upakara #hindu