Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Bali: Unik, Tari Baris Keraras Gunakan Busana Daun Pisang dan Daging Babi, Ternyata Ini Makna dan Tujuannya

I Putu Mardika • Kamis, 18 Januari 2024 | 17:33 WIB
BUSANA UNIK: Tari Baris Keraras gunakan busana unik daun pisang kering dan daging babi yang sarat makna dan tujuan.
BUSANA UNIK: Tari Baris Keraras gunakan busana unik daun pisang kering dan daging babi yang sarat makna dan tujuan.

BALI EXPRESS – Sebagai bagian dari tradisi Bali, Baris Keraras tergolong tarian magis yang sangat unik.

Dalam pementasannya, tari Baris Keraras memiliki pakem dan gerak tari yang unik, berbeda dengan gerakan tari Baris pada umumnya.

Demikian juga iringan tabuhnya, tidak memakai gamelan tetapi vokal (gamelan dari suara mulut).

Pakaiannya juga sangat unik. Para penari Baris Keraras  memakai kostum terbuat dari keraras (daun pisang kering).

Gelungan (makhota) daun pelapah pisang yang dihiasi rebasan dari daging babi seperti sate lilit, kalung urutan babi, senjata sate yang dibentuk seperti keris.

Karena memakai daun keraras, maka tari ini kemudian disebut dengan tari Baris Keraras.

Busana tari Baris Keraras juga sarat akan makna.

Gelungan yang terbuat dari pelapah pisang berikut hiasan berupa daging babi dan kulit babi, dan berbagai bentuk senjata ngider bhuana merupakan lambang bunga dan buah hasil dari kesuburan tanah pertanian.

Hiasan muka dipergunakan kapur sirih (Pamor), melambangkan keseimbangan alam semesta.

Kalung dan gelang kana terbuat dari urutan babi merupakan lambang ular yang diyakini sebagai binatang penghusir hama tikus di sawah sehingga padi dapat tumbuh dengan baik.

Keris yang terbuat dari adonan sate merupakan lambang dari unsur purusha atau laki-laki, karena diyakini bahwa laki-lakilah yang menjadi tulang punggung keluarga dan dapat memberikan kehidupan yang sejahtera bagi semua anggota keluarga.

Keraras atau daun pisang kering merupakan lambang hutan, yang bermakna bahwa kehidupan petani tidak bisa terlepas dari hutan.

Sebab hutan merupakan sumber mata air yang akan mengairi sawah-sawah petani, dan nantinya memberikan kesuburan pada lahan pertanian.

Contohnya adalah air dari Puncak Mangu yang mengairi persawahan di Subak Bukti Batan Badung.

“Kain poleng memiliki arti penting dan sakral dalam kehidupan masyarakat di Bali sebagai lambing Rwa Bhineda. Konsep ini melambangkan keseimbangan antara alam atas, bawah, kanan dan kiri,” tandasnya.

Editor : Nyoman Suarna
#baris keraras #bali #unik #babi #tradisi #tari #daun pisang