BALI EXPRESS - Dalam pandangan umum, perjalanan hidup manusia tak terhindarkan dari fase kelahiran hingga kematian.
Namun, di tengah realitas ini, muncul fenomena menarik yang dikenal sebagai mati suri.
Mati suri adalah sebuah keadaan di mana seseorang yang telah dipastikan mati, tiba-tiba hidup kembali setelah beberapa waktu.
Fenomena mati suri menciptakan nuansa misteri dan menjadi topik perbincangan menarik dalam berbagai budaya, termasuk di Bali.
Dalam bukunya, "Lima Cara Beryadnya," I Gusti Ketut Widana menjelaskan, mati suri adalah sebuah kondisi di mana seseorang telah diumumkan meninggal dengan tanda-tanda kematian yang jelas, seperti hilangnya aktivitas denyut nadi, namun kemudian mendadak hidup kembali.
Fenomena ini menunjukkan bahwa batasan antara hidup dan mati kadang-kadang tidak begitu tegas sehingga membuka ruang untuk pertanyaan dan diyakini sebagai keajaiban.
Sebuah cerita rakyat Bali menawarkan perspektif menarik tentang mati suri melalui kisah I Lara.
Dalam cerita ini, seseorang yang diyakini telah meninggal, kemudian menunggu hari yang dianggap baik untuk dikuburkan, tiba-tiba kembali hidup.
Kisah I Lara menjadi bagian dari warisan budaya Bali yang menghidupkan kembali kisah-kisah mistis seputar kehidupan dan kematian.
Meskipun mati suri menjadi cerita umum yang sering didengar atau disaksikan masyarakat, referensi Hindu belum secara eksplisit membahas fenomena ini.
Dalam pustaka-pustaka Hindu, istilah mati dan salah pati (kematian yang tak terduga) memang ditemukan, namun tidak ada rujukan khusus terkait mati suri.
Penelusuran terhadap ayat atau sloka yang membahas konsep mati suri dalam konteks Hindu belum membuahkan hasil.
Dalam lontar-lontar yang membahas tentang kematian, penanganan terhadap mati hakiki, salah pati, dan ulah pati memiliki ketentuan tersendiri.
Namun, terkait dengan mati suri, di mana seseorang yang sebelumnya dianggap mati tiba-tiba hidup kembali, tidak ada aturan spesifik yang dijumpai. Sehingga penyelesaiannya menurut tatacara Hindu masih gabeng alias tidak jelas.
Dalam konteks ini, segala rangkaian upacara Pitra Yadnya yang telah disiapkan menjadi batal, dan individu yang mengalami mati suri hanya dianggap sedang tidur, bukan mati sesungguhnya.
Meskipun mati suri menjadi fokus perhatian dan misteri dalam budaya dan kepercayaan masyarakat, keberadaannya masih menjadi bagian dari ranah keajaiban yang belum sepenuhnya terpahami.
Fenomena ini tetap menjadi bagian menarik dalam perbincangan mengenai batas antara hidup dan mati, serta warisan budaya yang diteruskan melalui kisah-kisah lokal.
Editor : Nyoman Suarna