BALI EXPRESS - Setiap manusia setidaknya akan melewati empat fase hidup yakni anak-anak, muda, dewasa, dan tua.
Fase tersebut telah menjadi perjalanan hidup secara baku yang mengikat setiap insan manusia.
Setiap bayi yang lahir akan berkembang menjadi anak-anak, lalu tumbuh dewas hingga menjadi tua.
Anak-anak merupakan masa hidup yang dipenuhi dengan eksplorasi diri dalam sebuah permainan. Setiap manusia yang berada pada fase anak-anak, notabene akan senang untuk bermain.
Beralih dari anak-anak, maka manusia akan masuk pada masa muda. Ketika manusia memasuki masa muda, mereka berada pada masa produktif yang perdana.
Masa muda menjadi ruang eksplorasi diri, termasuk menentukan arah selanjutnya dari manusia itu sendiri.
Penyuluh Agama Hindu, I Made Danu Tirta, menerangkan, perkembangan dari usia muda adalah dewasa.
Manusia pada fase umur dewasa dapat dikatakan sebagai puncak produktif baik dari sisi materi, fisik, pola pikir dan sebagainya.
Namun, usia dewasa akan bersiap lengser memasuki usia tua yang penuh dengan kelemahan diri, utamanya dari segi produktivitas fisik.
Setiap fase usia memiliki potensi tersendiri untuk dimanfaatkan. Masa anak-anak akan sangat baik dimanfaat untuk mengarahkan karakter dasar dan luhur, yang nantinya dapat dikembangkan kembali pada usia selanjutnya.
Terlebih lagi masa muda, maka ini adalah tahapan paling produktif untuk membangun kekuatan dari sisi pengetahuan, karir dan sebagainya.
Masa dewasa saatnya manusia untuk memanfaatkan hasil karir maupun pengetahuan. Sedangkan pada masa tua, manusia akan menikmati hasil perjuangan hidup yang telah diusahakan pada tahap hidup sebelumnya.
Berdasarkan semua fase hidup di atas, maka usia muda adalah tahap emas dari perjalanan hidup manusia.
Masa muda menjadi masa paling kuat baik dari sisi fisik, kekuatan pikiran, jejaring sosial dan sebagainya.
Banyak realitas hidup yang dikaitkan dengan usia muda. Bahkan, ketika masa tua manusia menderita, maka yang dipertanyakan adalah apa yang sudah dilakukan saat muda. Pandangan seperti ini memberikan sebuah penekanan bahwa masa muda adalah penentu hidup.
Namun, banyak generasi muda yang tidak kreatif memanfaatkan usia produktifnya. Kemalasan yang memang membawa nuansa santai, tenang, dan membuai manusia dalam zona nyaman, sering dipandang sebagai teknik terbaik untuk mengisi masa muda oleh para pemuda itu sendiri.
Kondisi ini menjadikan masa emas dalam hidup manusia terbuang secara sia-sia.
Terkait dengan permasalahan tersebut, kitab Sarasamuscaya sloka 33 terbitan Ditjen Bimas Hindu mengungkap:
Matangnya deyaning wwang, pĕngpönganikang kayowanan, panĕḍĕng ning awak, sādhanākena ri kārjananing dharma, artha, jñāna, kunang apan tan pada kasaktining atuha lawan rare, dṛṣtānta nahan ya ng alalang atuha, tĕlas rumĕpa, maring alaṇḍĕp ika.
Baca Juga: Holding Ultra Mikro BRI Group Jangkau Jaringan Lebih Luas, Dukung Wujudkan Indonesia Emas 2045
Terjemahannya:
Oleh karena itu, perilaku manusia ketika sedang muda, selagi fisik sedang kuatnya, gunakanlah untuk menuntut dharma, artha, dan ilmu pengetahuan. Sebab kekuatan orang tua tidak akan sama ketika masih muda. Seperti pohon ilalang yang sudah tua, akan rebah dan ketajamannya pun akan hilang.
Petikan Sarasamuscaya Sloka 33 mengatakan bahwa hidup manusia seperti ilalang (ambengan). Ketika ilalang tersebut masih berusia muda, maka akan memiliki kekuatan dan ketajaman yang baik.
Begitu juga halnya dengan manusia, ketika berusia muda kekuatan fisik dan ketajaman pikiran masih prima.
Hal ini, menurut Danu Tirta, harusnya menjadi modal diri untuk menentukan arah hidup selanjutnya.
Baca Juga: Ajaran Panca Satya dalam Agama Hindu: Seorang Pemimpin harus Paham dan Lakukan Ini
Petikan Sloka 33 kitab Sarasamuscaya juga menginstruksikan manusia untuk memanfaatkan masa muda untuk berbuat dharma, mencari artha, dan menuntut ilmu pengetahuan. Dharma dalam konteks ini tertuju pada pembiasaan diri berbuat dharma, termasuk menuntut ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan yang berhasil dimiliki akan dipergunakan sebagai dasar mencari penghidupan (artha).
Hal ini selaras dengan petikan Pupuh Ginanti yang mengatakan bahwa “kawruhe luir senjata, ne dadi prabotang sai, keanggen ngaruruh mertha”.
Artinya adalah pengetahuan itu ibarat senjata yang dipergunakan untuk mencari penghidupan.
Hasil produktivitas di masa muda akan menjadi bekal menikmati masa “pensiun” di usia tua.
Oleh sebab itu, generasi muda hendaknya memanfaatkan fase atau usia muda dengan baik, agar saat masa tua nanti bisa hidup nyaman dan tenang.
Editor : Nyoman Suarna