BALI EXPRESS - Tetua orang Bali memiliki sejumlah pantangan yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari etika.
Pantangan tersebut di antaranya tidak boleh duduk di pintu masuk, duduk di atas bantal, dan pantangan tidur saat sandikala (sore hari).
Soal pantangan tidur saat sandikala, hingga saat ini masih diyakini oleh masyarakat Bali terutama yang beragama Hindu.
Rupanya, ada mitologi yang mendasarinya tentang pantangan tidur saat sandikala.
Seorang budayawan Jro Dalang I Wayan Contoh menjelaskan, ada sejumlah alasan mengapa orang Bali dilarang tidur saat sandikala.
Menurutnya, sandikala itu merupakan waktu peralihan antara siang dengan malam, tepatnya saat sore hari atau sekitar pukul 18.00 Wita.
Jro Dalang Wayan Contoh memaparkan larangan itu dipaparkan dalam Lontar Kala Tattwa.
Dalam lontar tersebut diceritakan, saat Dewa Siwa bersama saktinya Dewi Uma melila cita (bersenang-senang) di tengah laut, nafsu Dewa Siwa memuncak ingin bersenggama dengan Dewi Uma
Karena sadar bahwa mereka merupakan para dewa yang harus memberi contoh kepada manusia, Dewi Uma atau Giri Putri menolak keinginan Dewa Siwa.
“Karena nafsu Dewa Siwa tak terbendung, akhirnya air mani Dewa Siwa keluar dan jatuh ke Samudera,” jelasnya.
Setelah terjatuh di Samudera, lautan menjadi bergemuruh dan bergejolak. Peristiwa itu kemudian diketahui oleh Dewa Brahma dan Wisnu sehingga para dewa ini beryoga.
Dari air mani tersebut kemudian muncullah raksasa besar dengan perangai yang menakutkan. Wujudnya sangat menyeramkan dan sakti. Raksasa itu kemudian marah sehingga membuat para dewa menjadi takut.
Karena kesaktiannya, raksasa itu hingga mengganggu sampai ke Sorga Loka sehingga membuat Dewata Nawa Sanga turun dan memerangi raksasa itu. Meski dikeroyok, raksasa itu nyaris tidak mengalami luka.
Raksasa itu mengatakan bahwa tak ada niatnya untuk berperang dengan Dewata Nawa Sanga.
“Sedikitpun saya tidak ada niat untuk berperang. Saya hanya ingin tahu siapa ayah dan ibu saya. Kata raksasa itu kepada Dewata Nawa Sanga,” ujar Jro Dalang Contoh mengisahkan.
Namun Dewata Nawa Sanga tak terima alasan raksasa itu karena disinyalir akan merusak kahyangan.
Raksasa itu terus dikejar hingga akhirnya sampai di kaki Dewa Siwa. Para Dewata Nawa Sanga lantas melaporkan peristiwa itu kepada Dewa Siwa, bahwa raksasa itu sangat beringas.
Kalau Dewa Siwa tidak turun tangan, maka para dewa di kahyangan pasti kalah.
Kemudian bertanyalah Dewa Siwa kepada sang raksasa, “Wahai raksasa, kenapa engkau datang ke sorga loka,”
Dijawab oleh raksasa itu bahwa dirinya tidak mau berperang, tetapi hanya ingin tahu siapa ayah dan ibunya.
Dalam Lontar Kala Purana disebutkan, Dewa Siwa lantas meminta raksasa itu memotong taringnya agar bisa mengetahui siapa ayah dan ibunya.
Kemudian raksasa itu memotong taring kanannya. Hal inilah yang menjadi cikal bakal pelaksanaan upacara metatatah.
Sesuai janjinya, Dewa Siwa lalu mengatakan bahwa dirinyalah bersama Dewi Uma orangtua raksasa itu.
Editor : Nyoman Suarna