BALI EXPRESS - Dalam Lontar Kala Tattwa disebutkan, setelah raksasa itu diakui sebagai anak oleh Dewa Siwa dan Dewi Uma, dia kemudian diminta turun ke bumi dan berstana di Pura Dalem.
Lalu bersabdalah Bhatari Uma (Giri Putri), ”Duhai putraku, mulai sekarang janganlah engkau mengembara. Menyusuplah engkau di desa pakraman dan tinggalah di Pura Dalem dengan nama Durga.”
“Siwa ayahmu yang memberimu nama Hyang Kala pada waktu taringmu dipotong. Kamu menjadi komandan kelompok kala, yaitu Durga, Pisaca, Wil, Danuja, Kingkara, Raksasa, dan segala macam penyakit, hama, serta segala macam bisa (racun), termasuk segala kekuatan gaib,” ungkap budayawan Jro Dalang I Wayan Contoh.
Sang raksasa diizinkan menyebarkan wabah penyakit kepada manusia dan membuat kekacauan lainnya. Raksasa itu juga diberikan izin untuk menyantap sejumlah hal dengan syarat-syarat tertentu.
Ia diizinkan menyantap seseorang yang tidur saat sandikala atau peralihan waktu antara siang dan makan.
“Sesuai keyakinan masyarakat dalam tradisi Bali, jika ada orang yang tidur menyalahi waktu sampai lewat sandikala maka bisa ditadah atau dimakan,” jelas Jro Dalang I Wayan Contoh.
Selain itu raksasa juga boleh menyantap anak kecil menangis dan ditakut-takuti oleh ayah ibunya, dengan kata-kata “nah-nah ‘amah ne”.
Raksasa itu juga boleh memangsa orang yang membanca kidung, kakawin, tutur-turut utama di tengah jalan, dan juga orang yang mengadakan pertemuan di jalan.
Sebailknya, jika ada yang memujamu, maka sepatutnya engkau memberi anugerah.
“Dari penggalan cerita Lontar Kala Tattwa, leluhur kita sudah mengajarkan agar kita tidak tidur sampai menyalahi waktu, yakni melewati sandikala atau peralihan siang dan malam. Biasanya secara ilmiah, badan kita kerap menjadi sakit,” tutur Jro Dalang I Wayan Contoh.
Seperti diketahui, tetua orang Bali memiliki sejumlah pantangan yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari etika.
Baca Juga: Korban Pengeroyokan di Mengwi Badung Dimakamkan, Ucapan sang Anak Bikin Haru
Pantangan tersebut di antaranya tidak boleh duduk di pintu masuk, duduk di atas bantal, dan pantangan tidur saat sandikala (sore hari).
Soal pantangan tidur saat sandikala, hingga saat ini masih diyakini oleh masyarakat Bali terutama yang beragama Hindu.
Rupanya, ada mitologi yang mendasarinya tentang pantangan tidur saat sandikala.
Editor : Nyoman Suarna