BALI EXPRESS - Dalam kepercayaan masyarakat Bali, tidak diizinkan untuk tidur saat sandikala.
Sandikala merupakan waktu peralihan antara siang dengan malam, tepatnya saat sore hari sekitar pukul 18.00 Wita, merupakan waktu yang tidak tepat untuk tidur.
Secara mitologi, jika ada orang yang tidur menyalahi waktu sampai sandikala maka bisa ditadah atau dimakan bhatara kala, seperti kisah yang disebutkan dalam lontar Kala Tattwa.
Namun dari perspektif medis, tidur saat sandikala dapat meningkatkan risiko penyakit.
Berikut adalah beberapa dampak tidur sore terhadap kesehatan:
1. Menurunkan daya tahan tubuh: Tidur sore hari hingga sandikala dapat mempengaruhi produksi insulin, mengakibatkan gangguan pada sistem metabolisme dan menurunkan daya tahan tubuh.
2. Memengaruhi kadar gula darah yang dapat memicu diabetes: Proses tidur pada sore hari juga dapat memengaruhi kadar gula darah dan memprovokasi diabetes, karena menurunnya produksi insulin dalam tubuh.
3. Memicu kebingungan dan gangguan daya ingat: Selain dapat menyebabkan diabetes, tidur sore juga berisiko mengganggu daya ingat seseorang, seringkali menyebabkan kebingungan setelah bangun tidur sore.
4. Meningkatkan kadar kolesterol jahat: Tidur sore dapat meningkatkan kadar kolesterol karena metabolisme sedang berada di titik rendah.
5. Menyebabkan tubuh terasa lemas dan pegal-pegal: Tidur saat Sandikala dapat membuat otot dan paru-paru menjadi lemas, dan kurangnya asupan oksigen dapat membuat tubuh terasa lemas setelah bangun tidur sore.
Seperti diungkap oleh budayawan Jro Dalang I Wayan Contoh, ada sejumlah alasan mistis mengapa orang Bali dilarang tidur saat sandikala.
Menurutnya, sandikala itu merupakan waktu peralihan antara siang dengan malam, tepatnya saat sore hari atau sekitar pukul 18.00 Wita.
Jro Dalang Wayan Contoh memaparkan larangan itu dipaparkan dalam Lontar Kala Tattwa.
“Sesuai keyakinan masyarakat dalam tradisi Bali, jika ada orang yang tidur menyalahi waktu sampai lewat sandikala maka bisa ditadah atau dimakan,” jelas Jro Dalang I Wayan Contoh.
Selain itu raksasa juga boleh menyantap anak kecil menangis dan ditakut-takuti oleh ayah ibunya, dengan kata-kata “nah-nah ‘amah ne”. Raksasa itu juga boleh memangsa orang yang membanca kidung, kakawin, tutur-turut utama di tengah jalan, dan juga orang yang mengadakan pertemuan di jalan.
Sebaliknya, jika ada yang memujamu, maka sepatutnya engkau memberi anugerah.
“Dari penggalan cerita Lontar Kala Tattwa, leluhur kita sudah mengajarkan agar kita tidak tidur sampai menyalahi waktu, yakni melewati sandikala atau peralihan siang dan malam. Biasanya secara ilmiah, badan kita kerap menjadi sakit,” tutup Jro Dalang I Wayan Contoh.
Editor : Nyoman Suarna