BALI EXPRESS - Dalam tradisi kehidupan masyarakat adat di Bali, pekarangan rumah memegang peranan penting.
Konsep ketat mengenai fungsi dan tata letak bangunan dalam rumah-rumah tradisional masyarakat Bali merupakan bagian dari warisan leluhur. Bagaimana konsep rumah sebagai tempat tinggal menurut tradisi Bali?
Sampai saat ini, masyarakat Bali masih mempertahankan konsep bangunan tradisional sebagai tempat tinggal atau tempat tidur.
Di setiap rumah warga di wilayah desa adat di Bali, ditemui tempat tinggal atau tempat tidur sesuai dengan fungsinya.
Begitu memasuki pekarangan rumah, kita akan melihat Bale Meten yang juga dikenal sebagai Bale Daja.
Bale ini umumnya digunakan sebagai tempat tinggal atau tempat tidur.
Kedua, ada yang disebut dengan Bale Gede atau Bale Dangin.
Namun, akhir-akhir ini, Bale Gede hanya difungsikan sebagai tempat pelaksanaan upacara agama.
Ketiga, Bale Loji yang juga disebut sebagai Bale Dauh, berfungsi sebagai tempat tidur atau untuk kegiatan sehari-hari.
Bangunan-bangunan tersebut biasanya dibangun oleh masyarakat Bali sesuai dengan kemampuan dan kondisi tempat.
Semua ini tidak terlepas dari harapan bahwa rumah tinggal tersebut selalu memberikan kedamaian dan kesejahteraan bagi penghuninya, baik secara lahir maupun batin.
Semua prinsip ini tertuang dalam buku "Indik Wewangunan" yang ditulis oleh Drs. I Ketut Pasek Swastika.
Terhadap maksud dan tujuan tersebut, pemilihan jenis dan kategori palemahan juga memainkan peran penting.
Selain itu, pembagian peruntukkan dari setiap bagian bangunan dan palemahan menjadi hal yang penting.
Mulai dari pawon atau dapur, jineng sebagai tempat menyimpan padi, hingga tempat-tempat lain yang berfungsi sebagai pelayanan.
Ini juga melibatkan Tri Angga yang terdiri dari utama angga, madya angga, dan nista angga; Tri Mandala, dan aspek-aspek lainnya terkait wewangunan Bali.