BALI EXPRESS - Desa Batukaang, Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali memiliki tradisi unik. Tradisi unik tersebut berupa pesangkepan.
Pesangkepan merupakan bahasa Bali yang berasal dari kata sangkep yang berarti rapat atau pertemuan.
Namun sangkep atau pertemuan yang digelar warga adat Desa Batukaang, Kintamani, Bali berbeda dengan wilayah Bali lainnya.
Jika warga di desa lain bisa menggelar pesangkepan sewaktu-waktu sesuai dengan kepentingan, di Desa Batukaang hanya digelar saat bulan mati atau Tilem.
Karena itu, pesangkepan ini disebut dengan pasangkepan Tilem atau pesangkepan yang digelar saat Tilem.
Pesangkepan Tilem dipimpin oleh seorang Jero Kabayan dan hanya diikuti oleh krama yang sudah menikah.
Bendesa Adat Batukaang, I Ketut Resep mengatakan, tradisi ini sudah diwariskan secara turun- temurun.
“Pesangkepan dilaksanakan pada hari tilem. Pesertanya juga bukan sembarangan, melainkan krama yang sudah menikah,” jelasnya.
Pesangkepan Tilem dilaksanakan oleh masyarakat mulai pukul 19.00 hingga pukul 21.00 Wita, diawali dengan pemukulan kentungan (kul-kul) sebagai tanda pesangkepan dimulai.
“Pesangkepan Tilem diadakan sebagai bentuk rasa syukur dan menghormati para leluhur yang berstana di Pura Bale Agung,” ungkapnya.
Pesangkepan Tilem yang dilaksanakan di Bale Lantang Pura Bale Agung Desa Batukaang ini diikuti dengan penuh tata krama.
Pelaksanaannya memakai sarana seperti canang satu ceeng dan makanan dari ketan yang dipimpin oleh seorang Jero Kabayan.
Pesangkepan Tilem dilaksanakan untuk mendapatkan solusi melalui musyawarah. Pesangkepan diakhiri dengan makan makanan terbuat dari ketan secara bersama.
“Hal ini semakin menguatkan solidaritas sosial antar krama untuk melestarikan adat tradisi dan dresta kami yang sudah berlaku secara turun-temurun,” tutupnya.
Editor : Nyoman Suarna