BALI EXPRESS - Dalam keyakinan Hindu, makanan bukan sekadar kebutuhan fisik, melainkan juga merupakan simbol spiritual.
Umat Hindu meyakini bahwa kehidupan bermula dari anugerah makanan, dan setiap hidangan yang diberikan merupakan manifestasi dari kebaikan Tuhan.
Dalam upaya mengungkapkan rasa syukur dan memelihara keseimbangan alam semesta, umat Hindu terbiasa melaksanakan Yadnya Sesa, sebuah ritus yang mencerminkan penghargaan terhadap kehidupan dan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.
Penyuluh Agama Hindu, Ni Nyoman Nadi, menjelaskan bahwa yadnya sesa merupakan yadnya yang dilaksanakan oleh umat Hindu sehari-hari atau Nitya Karma.
“Yajna Sesa adalah persembahan tulus ikhlas yang terdiri dari nasi, lauk-pauk, sayur-sayuran, garam, dan air. Persembahan ini dilaksanakan setelah selesai memasak di tempat-tempat tertentu,” terangnya.
Yadnya sesa juga disebut Ngejot atau Banten Saiban.
Perlu diingat bahwa Yadnya Sesa/Ngejot/Saiban ini dilaksanakan setelah selesai memasak setiap hari, sebelum makani.
Yadnya Sesa merupakan penerapan dari ajaran kesusilaan Hindu, yang menuntut umat untuk selalu bersikap anersangsya yaitu tidak mementingkan diri sendiri dan ambeg para mertha yaitu mendahulukan kepentingan di luar diri.
Pelaksanaan Yadnya Sesa bertujuan agar manusia Hindu memperoleh kehidupan dan penghidupan, dengan mengambil pijakan dari Sloka Bhagawad Gita III, 13.
Dalam sloka tersebut terungkap:
“Yajna sistasinah santo, Mucuante sarwa kilbisaih, Bunjate te twagham papa, Ye pacanty atma karanat.”
Artinya: Dia yang memakan sisa yadnya akan terlepas dari segala dosa, tetapi ia yang memasak makanan hanya bagi dirinya sendiri, sesungguhnya makan dosanya sendiri.
Sloka tersebut mengisyaratkan bahwa sebelum menikmati sesuatu, persembahkanlah terlebih dahulu sebagai cetusan Angayubagia atas Wara Nugrahanya.
Mempersembahkan makanan yang dimiliki juga termasuk persembahan yang mulia dan dapat menentramkan hidup ini.
“Kita yakin bahwa usaha apapun pasti membuahkan hasil. Demikian juga persembahan Yadnya Sesa adalah untuk memohon anugerah Hyang Widhi Wasa agar kita selalu dianugerahi benih kehidupan dan kenikmatan hidup di dunia ini,” beber Nyoman Nadi.
Alangkah nistanya hidup ini yang hanya mengutamakan kepentingan diri sendiri dan hanya untuk menyenangkan diri pribadi saja dengan mengorbankan yang lainnya.
Manusia yang hanya mengejar kepuasan diri pribadi di tengah kesengsaraan dan kemelaratan, tidak ada bedanya dengan pribadi seorang pencuri.
Karena itu manusia harus beryadnya, di antaranya mempersembahkan Yadnya Sesa.
Makanan merupakan sumber kehidupan. Sebab dengan adanya makanan, semua makhluk di jagat raya ini dapat hidup.
Walaupun wujudnya sangat sederhana dan tampak kecil, namun hakikat Yadnya Sesa itu sangatlah mulia dan luhur.
Yadnya Sesa mengandung makna spiritual untuk menenteramkan kehidupan makhluk yang lainnya.
Makanan yang dinikmati manusia bukan semata-mata merupakan hasil usahanya sendiri, tetapi hasil bersama-sama antara makhluk yang satu dengan yang lainnya, serta bantuan kekuatan alam yang disebut dengan Panca Maha Butha.
Panca Maha Butha adalah kekuatan tanah (pertiwi), air (apah), panas (api/teja), angin (bayu), ether (akasa).
Adanya nasi atau makanan ini juga berkat kekuatan atau kemahakuasaan Hyang Widhi melalui manifestasinya yang disebut dengan Tri Murti, yakni tiga macam kekuatan Tuhan dalam melindungi dan menganugerahi umatnya.
Beras dapat dimasak atau dimatangkan menjadi nasi berkat adanya tiga kekuatan tadi yakni Dewa Brahma dengan kekuatan panasnya, Dewa Wisnu dengan kekuatan airnya, dan Dewa Siwa dengan kekuatan penyusutannya.
Ketiga kekuatan tersebut menyatu sehingga menjadi beras lalu menjadi nasi.
Proses inilah merupakan suatu kerja sama manusia baik secara sekala maupun niskala sehingga dapat menikmati makanan.
Oleh karena manusia menikmati makanan ini atas dasar kebersamaan dan merupakan pemberian, maka patutlah makanan itu dipersembahkan kembali pada kekuatan alam lainnya melalui Yadnya Sesa atau banten saiban itu sendiri.
Adapun bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat Yadnya Sesa adalah daun pisang.
Daun pisang dipotong segi empat atau dibuat berbentuk tangkih (taledan), yang digunakan sebagai alas nasi.
Nasi merupakan persembahan pokok dari Yadnya Sesa. Apabila tidak ada lauk atau yang lainnya, nasi dan garam juga bisa digunakan untuk Yadnya Sesa.
Sebab untuk menjadi nasi, melalui proses memasak yang disertai dengan bantuan kekuatan Dewa Brahma dengan panasnya api, kekuatan Dewa Wisnu dengan air, dan kekuatan Dewa Siwa untuk “Nyupat” atau menyucikan beras.
Garam merupakan sarinya air laut yang terasa asin. Rasa asin sangat dibutuhkan manusia agar makanan tidak terasa hambar. Maknanya adalah segala usaha maupun yadnya supaya dapat dirasakan atau dinikmati hasilnya. Tanpa ada rasa, maka usaha itu akan sia-sia.
Lebih dari itu, dengan rasa manusia sadar dirinya berutang kepada Sang Hyang Widhi Wasa.
Lauk pauk juga merupakan bahan untuk Yadnya Sesa, untuk melengkapi rasa.
Selain lauk pauk, air juga merupakan sarana pelengkap Yadnya Sesa. Air merupakan symbol kekuatan Dewa Wisnu yang berfungsi untuk menenangkan dan menyejukan.
Yadnya Sesa atau Ngejot ditujukan ke hadapan :
Sang Hyang Widhi Wasa beserta semua manifestasinya (Sang Hyang Siwa Raditya atau Sang Hyang Surya). Suguhan ini ditempatkan di atas atap rumah atau di atas tempat tidur (pelangkiran) yang telah disediakan.
- Sang Hyang Brahma bertempat di tungku atau tempat memasak.
- Sang Hyang Wisnu bertempat di tempat menyimpan air atau bisa juga di sumur.
- Sang Hyang Amerta atau Dewi Sri bertempat di penyimpanan beras atau nasi.
- Sang Hyang Pertiwi bertempat di halaman rumah yang juga ditujukan kehadapan Bhuta Bhuti.
- Ke hadapan Penunggun Karang bertempat di Tugu.
- Kehadapan Bhatara-Bhatari dan roh suci leluhur bertempat di Merajan dan Sanggar yang lainnya.
- Serta di tempat-tempat lainnya yang dipandang perlu dan jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan setempat.
Nyoman Nadi juga menegaskan bahwa hakikat Yadnya Sesa tersebut bermakna, dimanapun umat Hindu berada agar senantiasa mendahulukan kepentingan umum atau para dharma daripada kepentingan pribadi atau swadharma.
Selain itu juga memiliki makna untuk mendahulukan dharma bakti dan kewajiban daripada pamrih atau kehendak menuntut hak untuk diri sendiri.
Editor : Nyoman Suarna