BALI EXPRESS – Menurut sarati banten, Jro Ketut Utara, penggunaan bubur sebagai banten saat hari Tumpek Bubuh berkaitan dengan penggambaran tumbuh-tumbuhan sebagai sosok tetua tersebut.
Orang tua yang sudah usia lanjut, akan kembali menjadikan bubur sebagai makanan utamanya.
Bubur adalah sari makanan yang bertekstur lembut sehingga mudah dicerna.
Kemudian penggunaan bubur yang dibuat serta dihaturkan saat Tumpek bubuh berwujud warna merah serta putih.
Bubur bercorak merah ialah lambang purusa (maskulin), sebaliknya bubur bercorak putih ialah lambang pradana (feminim). Penyatuan kedua hal inilah menimbulkan lahirnya kehidupan.
“Itulah alasan mengapa sarana bubur saat Tumpek Wariga tak bisa diganti dengan sarana lain, seperti ayam goreng atau bebek presto yang memiliki makna berbeda,” paparnya.
Selain bubur, ada berbagai sarana banten (sesajen) yang dipersembahkan kepada Sang Hyang Sangkara saat Tumpek Bubuh.
Menurut catatan yang terdapat dalam Lontar Sundarigama, terang Jro Ketut Utara, banten atau upakara yang diperlukan untuk perayaan tumpek wariga, di antaranya peras, sayut, tulung, banten ajuman atau soda dan bubur sumsum yang terbuat dari tepung beras ditaburi kelapa parut dan gula merah cair.
Banten peras adalah lambang perjuangan dan doa untuk mencapai tujuan hidup. Tidak hanya manusia, tumbuh-tumbuhan juga memiliki tujuan hidup.
Tumbuhan memiliki roh dan bisa tumbuh, tentu memiliki tujuan dalam hidupnya. Walaupun tumbuhan tidak bisa bersuara, dia terus tumbuh sesuai dengan kodratnya.
Banten penyeneng adalah jenis banten berbentuk sampian, berisi tiga kojong. Dalam kojong tersebut diisi tepung tawar, yaitu campuran tepung beras, kunyit, dan daun dapdap.
Penyeneng berfungsi sebagai sarana pada saat natab dalam upacara otonan. Saat otonan tumbuh-tumbuhan juga natab.
Selanjutnya adalah sesayut yang berasal dari kata “Ayu”. Dalam bahasa Sanskerta kata Ayu bermakna hidup yang baik.
Banten ini mengandung makna supaya tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar kita agar tumbuh dengan baik dan berguna bagi yang memerlukan.
Editor : Nyoman Suarna