Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Banten Pejati Terdiri dari Beberapa Unsur Penting, Ini Maknanya dalam Agama Hindu

Putu Agus Adegrantika • Selasa, 30 Januari 2024 | 16:23 WIB
PEJATI: Penyuluh Agama Hindu Ni Wayan Suarti menyebut bahwa banten pejati terdiri dari beberapa unsur penting yang sarat akan makna.
PEJATI: Penyuluh Agama Hindu Ni Wayan Suarti menyebut bahwa banten pejati terdiri dari beberapa unsur penting yang sarat akan makna.

BALI EXPRESS – Dalam kegiatan keagamaan, peran banten sangatlah penting bagi umat Hindu.  Banten adalah persembahan dan juga sarana bagi umat Hindu mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sebagai sang pencipta.

Banten merupakan buah pemikiran yang lengkap dan bersih. Bila dihayati secara mendalam, banten merupakan wujud dari pemikiran yang didasari dengan hati tulus dan suci.

Mewujudkan banten yang indah, rapi, meriah diawali dari pemikiran yang bersih, tulus dan suci.

Banten mempunyai makna dan nilai yang tinggi serta mengandung filosofis yang mendalam. Banten juga dipakai untuk menyampaikan rasa cinta, bhakti dan kasih.

Salah satu benten yang sering digunakan umat Hinda dalam berbagai kegiatan adalah banten pejati.

Secarta etemologi pejati yang merupakan bahasa Bali berasal dari kata “jati” dan mendapat awalan “pa-“. Jati berarti sungguh-sungguh, benar-benar.

Awalan pa- membentuk kata sifat jati menjadi kata benda pajati, yang menegaskan makna melaksanakan sebuah pekerjaan yang sungguh-sungguh.

Penyuluh Agama Hindu, Ni Wayan Suarti menerangkan bahwa banten pejati adalah sekelompok banten yang dipakai sarana untuk menyatakan rasa kesungguhan hati ke hadapan Hyang Widhi dan manifestasi-Nya. 

Banten pejati digunakan untuk melaksanakan upacara dan sebagai saksi dengan tujuan agar mendapatkan keselamatan.

“Banten pejati merupakan banten pokok yang senantiasa dipergunakan dalam Panca Yadnya. Banten pejati sering juga disebut ‘Banten Peras Daksina,” paparnya.

Lebih jauh dia menerangkan bahwa unsur-unsur banten pejati terdiri dari daksina, banten peras, banten ajuman rayunan/sodaan, ketupat kelanan penyeneng/tehenan/pabuat, pesucian, segehan alit, dan sarana lain berupa daun/plawa sebagai lambang kesejukan.

Adapun makna dari unsur perlengkapan banten pejati adalah sebagai berikut:

Daksina terdiri atas bakul/serembeng merupakan simbol arda candra. Di dalam bakul terdapat kelapa dengan sambuk (sabut) maperucut merupakan simbol brahma dan nada.

Kemudian ada juga bedogan, sebagai simbol swastika. Selanjutnya kojong pesel-peselan sebagai simbol ardanareswari, kojong gegantusan sebagai simbol akasa/pertiwi, telur bebek merupakan simbol windu dan satyam.

Di dalam daksina juga terdapat tampelan simbol trimurti. Irisan pisang sebagai simbol dharma. Irisan tebu sebagai simbol smara-ratih, dan benang putih sebagai simbol siwa.

Selain itu juga terdapat bunga sebagai lambang cetusan perasaan, kemudian bija lambang benih-benih kesucian. Air sebagai lambang pawitra, amertha, api sebagai lambang saksi dan pendetanya yadnya.

Ketupat kelanan adalah lambang dari Sad Ripu yang telah dapat dikendalikan atau teruntai oleh rohani, sehingga kebajikan senantiasa meliputi kehidupan manusia.

“Dengan terkendalinya Sad Ripu maka keseimbangan hidup akan menyelimuti manusia,” pungkas Nadi.

Editor : Nyoman Suarna
#unsur #Banten #pejati #hindu