BALI EXPRESS - Ada tradisi unik yang dilaksanakan menjelang piodalan di Pura Ponjok Batu, Kecamatan Tejakula, Buleleng Bali. Tradisi tersebut disebut dengan Menging yang dilaksanakan pada 12 hari sebelum piodalan.
Tradisi ini sama dengan nyengker dewasa di desa lain, untuk menentukan hari baik dalam pelaksanaan pujawali.
Nyengker dewasa adalah hari yang dikeramatkan. Selama Menging, warga tidak boleh melakukan upacara lain, termasuk menyemblih hewan dan tidak boleh ada darah yang tercecer di Desa Adat Bangkah.
“Hal ini bertujuan untuk menjaga kesakralan dan kesucian lokasi pura maupun Desa Adat Bangkah, utamanya menjaga kesucian Bhuana Agung,” kata Mangku Pasek.
Selain itu, lanjut Jro Mangku Pasek Sekalan, juga untuk menjaga Bhuana Alit.
Masing-masing krama dan keluarga harus menjaga kesucian, meliputi kesucian pikiran, kata-kata dan tingkah laku dalam berperilaku sehari-hari.
Saat Sasih Ketiga krama juga melaksanakan upacara pecaruan dengan mengambil tempat di pinggir timur laut atau sisi kelod kangin.
Upacara pecaruan ini bertujuan untuk nyomya bhutakala sebagai pengikut (ancangan) Ida Bhatara Pura Ponjok Batu, khususnya areal pelabuhan.
Sedangkan saat piodalan Sasih Kawulu pada pengelong ping pat (Dista), adalah piodalan Sasih Kedasa Kauh (jyesta) yang juga disebut piodalan sasih jyesta. Upacaranya disebut nebus gelati.
Piodalan Sasih Jyesta diperuntukkan bagi Ida Bhatara Lingsir Madue Karang atau disebut dengan Dewa Siwa. Yadnya pada Sasih Kasa, Penglong Ping Tiga dilaksanakan oleh semua desa adat di Kecamatan Tejakula.
Seperti diketahui, Pura Ponjok Batu yang terletak di Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali menjadi pura kahyangan jagat yang erat dengan kisah perjalanan Dang Hyang Nirartha saat melaksanakan perjalanan spiritual di Pulau Dewata.
Pengempon Pura Ponjok Batu, Jro Mangku Pasek Sekalan menjelaskan, ada tiga waktu piodalan yang dilaksanakan secara periodik dari tahun ke tahun di Pura Ponjok Batu.
Editor : Nyoman Suarna