Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Hindu Bali: Upacara Nelu Bulanin Bayi Dipimpin Pemangku, Ini Rangkaian dan Maknanya

I Putu Mardika • Rabu, 31 Januari 2024 | 17:15 WIB
RANGKAIAN: Sesuai tradisi Hindu di Bali, upacara nelu bulanin terdiri dari beberapa rangkaian dengan maknanya tersendiri.
RANGKAIAN: Sesuai tradisi Hindu di Bali, upacara nelu bulanin terdiri dari beberapa rangkaian dengan maknanya tersendiri.

BALI EXPRESS - Dosen Upakara, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Wayan Murniti, M.Pd mengatakan, secara umum pelaksanaan upacara Nelu Bulanin dipimpin seorang pemangku sonteng.

Sesuai tradisi Hindu di Bali khususnya, upacara Nelu Bulanin diawali dengan memohon tirta panglukatan, pembersihan, pabyekaonan, prayascita, lalu tirta tersebut dipercikkan di banten.

Setelah itu pemangku menghaturkan upakara (banten) kepada Bhatara Guru di pamerajan.

Setelah pemangku selesai menghaturkan upakara, si bayi dipanggil untuk memasuki pamerajan. Si bayi dilukat terlebih dahulu, kemudian meprayascita byekaon dan langsung natab sambutan.

Si bayi mengelilingi lesung sebanyak 3 kali. Waktu mengelilingi lesung, sebelum si bayi menginjakkan kakinya ke tanah, tanah tersebut dirajah dengan tampak dara (+).

Setelah itu si bayi melaksanakan ritual megogo-gogoan.

Saat prosesi megogo-gogoan, si bayi mengambil perhiasan seperti kalung, gelang, dan cincin. Perhiasan tersebut langsung dikenakan   atau dipakai. Namun sebelum dipakai, perhiasan tersebut dipercikkan atau dilukat dengan tirta panglukatan.

Prosesi selanjutnya adalah si bayi dan kedua orang tuanya bersembahyang.

Setelah sembahyang lalu mohon tirta pangening kepada Bhatara Guru, langsung matetebus, dan natab janganan.

Prosesi ini dimaksudkan untuk memberi upakara kepada babu/rare bajang agar jangan menggoda si bayi lagi. Upacara dilanjutkan dengan natab otonan.

Seperti diketahui, upacara Tigang Sasih atau Nelu Bulanin dilakukan ketika bayi berumur umur tiga bulan menurut perhitungan kalender Bali atau berumur seratus lima hari setelah bayi lahir.

Upacara Nelu Bulanin ini bisa dilaksanakan di merajan (tempat suci keluarga) atau di rumah pinandita.

Ritual Nelu Bulanin dianggap bagian terpenting dalam hidup manusia Hindu karena hanya dilaksanakan sekali selama hidup.

Berbeda dengan upacara ngotonin yang dilaksanakan ketika bayi berumur enam bulan, bisa diulang lagi untuk beberapa kali setiap enam bulan berikutnya.

Upacara Nelu Bulanin ini hanya sekali dilaksanakan, sebagai upacara perpisahan dengan empat saudara batin.

Adapun keempat saudara tersebut yakni ari-ari disebut (Sang Anta), tali pusar (Sang Preta), darah (Sang Kala), air ketuban (Sang Dengen) yang menyertai bayi pada saat dilahirkan.

Editor : Nyoman Suarna
#nelu bulanin #bali #upacara #bayi #hindu #tradisi #pemangku #rangkaian