BALI EXPRESS - Dosen Upakara, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Wayan Murniti, M.Pd memaparkan, sarana yang digunakan dalam upacara Nelu Bulanin adalah banten penyambutan.
Sesuai tradisi Hindu di Bali khususnya, banten ini menggunakan alas tempeh atau nyiru.
Kemudian disusuni taledan, telur ayam, tumpeng empat buah berisi tulung empat, peras, tulung sayut, tulung urip, tulung sangkur.
Sampiannya berupa naga sari, penyeneng, beras 1 kaleng susu, batu, benang setukel (1 ikat), dan uang 200 kepeng.
Ada juga banten untuk mengelilingi lesung, berupa 1 buah daksina dengan kelapa yang ada kulitnya 1 biji, 11 taledan kecil berisi nasi dan jajan, sebuah rasmen, pengulapan 1 soroh.
Selain itu juga ada pengambeyan, jerimpen, jejangan, suci 1 soroh, prayasiste pebyekaon, duur mangale, sude male, waktu mengelilingi lesung, bayi memakai tongkat lidi.
Sedangkan untuk banten upacara Megogo-gogoan terdiri dari peras, ajuman, dalam paso berisi air, udang, kepiting.
Ada juga jantung pisang dihias dengan kain kuning, batu, blego/timun lalu dimasukkan emas-emasan.
“Untuk banten otonan yang dipersembahkan di tempat tidur terdiri dari suci 1 soroh, tumpeng 22," papar Wayan Murniti.
Kemudian ditambah taman pragembal 1, tegteg, cengkir, daksine 4, jerimpen 2 biji, tebasannya pageh tuuh, pageh urip, pengenteg bayu, ditambah sayut pajegan, canang raka.
Sesuai tradisi Hindu di Bali khususnya, upacara Nelu Bulanin diawali dengan memohon tirta panglukatan, pembersihan, pabyekaonan, prayascita, lalu tirta tersebut dipercikkan di banten.
Setelah itu pemangku menghaturkan upakara (banten) kepada Bhatara Guru di pamerajan.
Setelah pemangku selesai menghaturkan upakara, si bayi dipanggil untuk memasuki pamerajan. Si bayi dilukat terlebih dahulu, kemudian meprayascita byekaon dan langsung natab sambutan.
Editor : Nyoman Suarna