BALI EXPRESS - Berbuat bajik adalah bagian dari karma baik. Berbuat bajik dapat dilakukan dengan cara menempuh atau membiasakan diri untuk berperilaku baik.
Berperilaku baik dapat dilakukan dengan hidup sesuai dengan standar norma perilaku yang berlaku, serta membudayakan tindakan santun dengan kedamaian serta kesejahteraan bersama sebagai hasil akhirnya.
Dengan kata lain bahwa berbuat bajik adalah tindakan luhur yang dapat menjadi pilihan oleh manusia dalam mengisi hidupnya.
Banyak sastra Hindu yang mengharapkan perbuatan bajik sebagai penghias utama dari kehidupan manusia.
Terkait hal itu Penyuluh Agama Hindu, I Made Danu Tirta, menjelaskan, kesempatan hidup menjadi manusia tidak hanya untuk meneruskan hasil karma sebelumnya, terlebih untuk menikmati atau memenuhi nafsu duniawi.
Kesempatan hidup menjadi manusia diharapkan dijadikan sebagai peluang terbaik untuk berbuat baik. Salah satunya dapat dilaksanakan dengan membiasakan diri untuk berbuat bajik.
“Secara ideal, setiap insan Hindu pasti memiliki tujuan untuk berbuat baik. Bisikan hati selalu menuntun pikiran dan perbuatannya untuk berperilaku bajik. Apabila bisikan hati ini dituruti secara bersungguh-sungguh, maka perilaku bajik akan semakin membudaya dan memberikan kecerahan bagi hidup manusia,” terang Danu.
Namun, banyak insan Hindu yang menunda berbuat bajik. Perbuatan bajik dinilai sulit untuk dilakukan. Nafsu duniawi cenderung lebih mendominasi manusia, sehingga tindakan hidup lebih tertuju pemuasan nafsu, meski dilakukan dengan praktik negatif.
Beberapa individu bahkan berpandangan bahwa kesempatan hidup saat ini tidak harus dipaksakan untuk melakukan hal sulit. Salah satunya membiasakan diri berbuat kebajikan.
Munculnya pandangan seperti ini menyebabkan fenomena stagnan bagi pembudayaan perbuatan bajik manusia.
Terkait dengan problem tersebut, Kitab Sarasamuscaya Sloka 37 terbitan Ditjen Bimas Hindu menyebutkan:
“Matangnyan pĕngpöngan wĕnangta, mangke n rare ta pwa kita n lĕkasakĕna agawe dharmasādhana, apan ānitya iking hurip, syapa kāri wruha ri tĕkaning pāti, syapa mangwruhana ri tĕkaning pātinya wih.”
Baca Juga: Relawan Puji Mahfud MD Mundur dari Menkopolhukam, Desak Bawaslu Awasi Presiden
Terjemahannya:
“Oleh karena itu, gunakanlah kemampuan masa mudamu. Semasih kecil seharusnya kamu menjalankan perbuatan yang berlandaskan kebajikan, karena hidup ini sesaat. Siapakah orang yang tahu akan ajalnya pada masa mendatang?”
Kitab Sarasamuscaya Sloka 37 di atas memberikan penekanan bahwa masa produktif adalah masa terbaik untuk melakukan berbagai hal. Masa produktif itu sendiri mulai dari masa muda, dan dewasa.
Masa produktif tersebut ditunjang oleh kemampuan berpikir yang tajam dan kondisi fisik mumpuni, sehingga memungkinkan adanya realisasi terhadap berbagai hal, termasuk berbuat baik secara maksimal.
Khusus untuk berbuat bajik, tidak harus dimulai pada masa muda. Alangkah baiknya, kebajikan sebagai wujud karma baik dibudayakan sejak kecil.
Apabila dianalogikan secara lebih lanjut, maka masa kecil ibarat kertas putih kosong yang bersedia dihiasi dengan berbagai tinta-tinta kehidupan.
Hal ini memberikan arti bahwa masa kecil merupakan masa terbaik untuk pembentukan kepribadian, salah satunya pendidikan karakter luhur dan budaya berperilaku kebajikan.
Berbuat bajik menjadi hal terbaik mengisi masa kecil. Melalui pembiasaan diri untuk berbuat bajik sejak kecil, maka perbuatan bajik itu sendiri akan semakin termatangkan sejalan dengan bergulirnya usia.
Melalui perbuatan bajik sejak kecil, maka produktivitas pada masa muda dan dewasa akan lebih diarahkan.
Pada nantinya, produktivitas pada masa muda dan dewasa tidak hanya melahirkan kesejahteraan, namun juga kedamaian universal (pribadi dan orang lain).
Membiasakan perbuatan bajik sejak kecil tidak hanya bermanfaat untuk pembentukan karakter, namun juga berposisi sebagai investasi karma baik selama perjalanan hidup (lahir hingga menjelang kematian).
Investasi karma baik tentunya menjadi hal penting bagi manusia Hindu, mengingat akan menjadi bekal utama ketika ajal menjemput.
Ajal manusia merupakan hal yang sangat rahasia. Tidak ada manusia yang mampu mengetahui ajalnya.
Oleh sebab itu, perbuatan bajik wajib dilaksanakan sejak dini agar nantinya, hidup berkedamaian di dunia dan ketika kembali kepada-Nya.
Editor : Nyoman Suarna