Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Bali: Uniknya Tari Jejumputan di Desa Pedawa, Ada Ritual Mistis untuk Penari

Dian Suryantini • Sabtu, 3 Februari 2024 | 18:31 WIB
TARI JEJUMPUTAN: Tradisi pemilihan para penari Tari Jejumputan di Pura Sekaa Juragan, Desa Pedawa, Buleleng, Bali dilakukan dengan cara unik. Ada ritual mistis yang dilaksanakan sebelum menari.
TARI JEJUMPUTAN: Tradisi pemilihan para penari Tari Jejumputan di Pura Sekaa Juragan, Desa Pedawa, Buleleng, Bali dilakukan dengan cara unik. Ada ritual mistis yang dilaksanakan sebelum menari.

BALI EXPRESS - Di sebuah desa kecil di utara Pulau Bali, bernama Desa Pedawa, kehidupan dan tradisi berkembang dengan indah.

Meskipun arus modernisasi dan pariwisata melanda, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali ini tetap menjadi penjaga nilai-nilai budaya leluhur mereka, terutama dalam seni tari.

Di antara gemerlapnya pertunjukan untuk wisatawan, terdapat sebuah tarian yang sangat unik, dikenal sebagai Tari Jejumputan.

Cikal bakal tari ini tidak terlepas dari sejarah Pura Sekaa Juragan yang dibangun berawal dari kejadian unik.

Konon pembangunan pura ini berawal dari para pemburu.

Pada suatu hari para pemburu menemukan batu lonjong yang dianggap sebagai petunjuk gaib.

“Saat berburu mereka istirahat. Samar-samar mereka mendengar suara agar dibagun pelinggih di dekat batu itu sebagai pemujaan terhadap Ida Bhatara Sri,” ujar Tetua Desa Pedawa, Wayan Sukerata, Kamis (1/2) siang.

Di tempat ini para pemburu kemudian mendirikan tempat pemujaan kepada Ida Bhatara Sri. Lama kelamaan tempat pemujaan Ida Bhatara Sri tersebut diberi nama Pura Sekaa Juragan.

Ada sebuah tradisi unik yang dilaksanakan di Pura Sekaa Juragan. Saat Pujawali pada Anggara Wage Matal, digelar Tari Jejumputan.

Tari Jejumputan ini sangat unik, sebab pemilihan penari dan pemain suling tidak sembarangan.

Tradisi pemilihan penari dan pemain suling yang disebut dengan penjumputan ini dilakukan dengan membawa pabuan berisi daun sirih, pinang, pamor, tembakau, gambir, dan pis bolong.

Setelah dipilih, para penari menjalani latihan, menjaga kebersihan di tempat pemandian, dan mengenakan pakaian sakral peninggalan leluhur.

“Sebelum ditarikan, dilakukan pemilihan calon penari yang terdiri dari pria dan wanita yang berusia kurang dari 10 tahun dan pemilihan pemain suling yang dilakukan sebelum penek banten (hari H). Penari akan melakukan pembersihan diri di Kayuan Jeringo,” ungkapnya.

Pementasan Tari Jejumputan berlangsung pada malam hari hingga pagi, diiringi alunan gamelan klasik.

Terdapat empat jenis tarian dalam pertunjukan ini, masing-masing dengan keunikan dan kekhasannya. Di antaranya, Aris-ArisanSemar Pegulingan, Umang dan Merak Mengelo. 

Namun, jenis tarian Merak Mengelo tidak ditarikan karena sangat sulitan.

Penduduk setempat memandang Tari Jejumputan sebagai bentuk permohonan untuk kemakmuran pertanian, menghindari hama dan bencana alam.

Pada saat jeda pertunjukan pukul 00.00 Wita, masyarakat desa setempat mengucapkan rasa syukur atas keselamatan dan berkah yang diberikan Ida Sesuhunan di Pura Sekaa Juragan.

Meskipun desa ini tidak luput dari imbas pariwisata, masyarakat Pedawa, terutama generasi muda, masih gigih dalam menjaga tradisi dan keaslian Tari Jejumputan.

Mereka melestarikan ritual, memahami nilai-nilai yang terkandung dalam tarian ini, dan menjaga kesakralan di tengah gempuran pariwisata yang masif.

Dalam kesederhanaannya, Tari Jejumputan bukan hanya sebuah pertunjukan seni, tetapi juga warisan leluhur yang harus dijaga agar tetap hidup hingga generasi mendatang.

“Tetapi intinya masyarakat meyakini pementasan Tari Jejumputan ini adalah warisan leluhur yang harus dijaga dan tidak perlu diperdebatkan, baik kesederhanaan gamelan, pakain, cara pemilihan para penari, dan ritual yang memiliki pakem tersendiri sebagai warisan para leluhur Desa Pedawa,” tutupnya.

Editor : Nyoman Suarna
#ritual #desa pedawa #bali #unik #mistis #penari #jejumputan #tradisi #tari