BALI EXPRESS - Siapa sesungguhnya teman setia dalam hidup kita? Pertanyaan itu selalu menggeliat pada setiap insan yang memiliki rasa penasaran terhadap esensi hidup.
Pertanyaan ini semakin menjadi tanda tanya dalam diri manusia, ketika manusia mulai menyadari bahwa semua yang terlihat saat ini merupakan maya dan ketidakabadian.
Menurut keyakinan agama Hindu, harta dan tahta yang dimiliki tidak dapat mendampingi manusia hingga kematian menjemput.
Sehingga, harapan untuk dapat mengetahui teman sejati dan setia selalu didambakan oleh setiap manusia yang haus dengan pengetahuan filosofi hidup.
Secara biologis, teman paling setia adalah raga atau tubuh ini.
Terkait soal teman setia, Penyuluh Agama Hindu, I Made Danu Tirta, menyebut, tubuh manusia memiliki berbagai komponen dengan fungsi atau kegunaan berbeda.
Sepanjang hidupnya, manusia memiliki kepala yang selalu hadir untuk menampung pikiran-pikiran manusia.
Manusia juga memiliki tangan dan kaki, yang hadir untuk membantu manusia menggapai maupun mencapai tujuan hidup.
Selain itu, manusia memiliki jantung, paru-paru, dan organ dalam lain yang secara totalitas menjadi komponen penting untuk metabolisme hidup.
Baca Juga: Tuhan Menurut Hindu: Weda dan Kitab Sutasoma Sebut Seperti Ini
Namun, tubuh tersebut juga tidak dapat mendampingi hingga kembali ke alam roh.
Serangan penyakit yang terjadi sewaktu-waktu, dapat melumpuhkan kesetiaan tubuh, bahkan tidak jarang salah satu organ tubuh harus terpisah dari tubuh.
Dengan demikian, tubuh sebagai teman biologis tidak dapat mendampingi kita hingga menghadap Brahman.
Secara sosiologis, teman paling setia dari manusia adalah keluarga dan sahabat.
Manusia sebagai makhluk sosial, lahir dari sebuah keluarga yang memiliki ikatan darah dan batin.
“Semasa hidup, keluarga, utamanya orang tua, akan selalu hadir baik untuk merawat ataupun memberikan tuntunan kepada manusia. Keluarga akan menjadi aspek sosial terdekat dan hampir selalu ada dalam perjalanan hidup manusia,” ungkap Danu.
Kebutuhan interaksi dari manusia, mendorongnya untuk melakukan hubungan dengan lingkungan sosial di luar keluarga, sehingga manusia memiliki sahabat.
Sahabat akan dikatakan sebagai teman setia apabila selalu hadir dalam suka maupun duka dari manusia itu sendiri.
Meski demikian, keluarga dan sahabat juga tidak dapat menjadi teman setia hingga atma menghadap Brahman.
Keluarga dan sahabat berkedudukan pula sebagai makhluk yang tidak abadi, sehingga tidak memungkinkan menjadi teman setia bagi manusia menghadap-Nya.
Berdasarkan ulasan di atas maka teman dalam konteks biologis dan sosiologis hanyalah sementara.
Meski demikian, sejatinya terdapat teman paling setia hingga manusia mencapai keabadian.
Hal ini dijelaskan dalam Kitab Sarasamuscaya Sloka 38.
Sloka 38 Kitab Sarasamuscaya yang diterbitkan Ditjen Bimas Hindu menyebutkan:
Baca Juga: Usai Modus, Ayu Saraswati Kembali Duet dengan Ray Peni di Lagu’ Patah Hati’
Apanikang kadang warga rakwa, ring tunwan hingan ikang pangatĕrakĕn, kunang ikang tumūt, sahāyanikang dadi hyang ring paran, gawenyāśubhāśubha juga, matangnyan prihĕna tiking gawe hayu, sahāyanta anuntunakĕna ri pöna dlāha.
Terjemahannya:
Oleh karena para kaum kerabat hanya sampai di tempat kremasi saja mengantarkannya, adapun yang mengikuti hingga di alam roh hanyalah perbuatan yang bajik atau jahat.
Oleh karenanya, utamakanlah berbuat kebajikan sebagai teman yang akan menuntunmu ke akhirat kelak.
Menurut Danu, Kitab Sarasamuscaya sloka 38 di atas memberikan pemahaman bahwa kerabat dan keluarga hanya mampu menemani manusia sampai tempat pembasmian (kremasi).
Kondisi ini menandakan bahwa, ketika manusia mati hanya diantarkan sampai di tempat peristirahatan terakhir oleh keluarga maupun kerabat.
Mereka adalah manusia yang masih hidup dan tidak mungkin menyerahkan diri untuk ikut dalam kematian atau pembasmian.
Keluarga dan kerabat mendampingi manusia di altar pembasmian dengan tangis kesedihan. Tidak dapat berbuat dan hanya berujung pada keikhlasan melepaskan.
Kitab Sarasamuscaya Sloka 38 memberikan jawaban bahwa teman paling setia dari manusia hingga ke alam baka adalah perbuatan baik dan buruk.
Hasil perbuatan baik maupun buruk akan melekat dan menemani manusia dalam kehidupan nyata maupun di alam roh.
Perbuatan baik dan buruk yang melekat tentunya menjadi teman dan penentu arah roh manusia ketika menuju alam roh.
Rekaman karma buruk akan mengantarkan roh manusia menuju alam neraka. Sedangkan rekaman karma baik akan menjadi teman setia dan jalan terang bagi manusia untuk mencapai alam surga bahkan moksa.
Oleh sebab itu, hendaknya manusia selalu mengusahakan perbuatan kebajikan.
Baca Juga: Lirik Lagu ‘Modus’ yang Dipopulerkan Oleh Ayu Saraswati dan Ray Peni
“Mengingat perbuatan kebajikan adalah teman setia dan memberikan jalan terang yang menuntun dan menentukan manusia menuju Alam Kebahagiaan Abadi,” pungkas Danu.
Editor : Nyoman Suarna