BALI EXPRESS - Kain gringsing Desa Tenganan Bali menjadi kain sakral karena digunakan dalam berbagai ritual.
Begitu juga proses pembuatan kain gringsing, melewati tahapan ritual disertai beberapa pantangan.
Perbekel Desa Tenganan, Ketut Sudiastika mengatakan, proses pembuatan kain gringsing diawali dengan persiapan sesaji (banten).
Kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan peralatan tenun, dan bahan-bahan dirituali.
Kegiatan ritual biasanya dilakukan di tempat mereka bekerja.
Menurut Sudiastika, setiap mengawali pekerjaan menenun selalu dimulai dengan ritual ngaturang pekeling di tempat bekerja. Tujuannya agar pekerjaan lancar, tidak ada gangguan dan hambatan.
“Sesaji yang disiapkan untuk mengawali pekerjaan menenun sangat beragam, ada yang kecil dan ada yang besar. Tergantung pada keyakinan masing-masing pengerajin,” kata mantan kelian adat Tenganan Pegringsingan ini.
Menenun kain gringsing tidak seperti mengerjakan kerajinan lain, boleh dilakukan sembarang waktu.
Masyarakat Tenganan Pegringsingan meyakini, jika ada salah satu dari pihak keluarga yang sedang menenun kain gringsing meninggal dunia, maka aktivitas menenun sementara dihentikan.
Pekerjaan akan dilanjutkan setelah melakukan upacara mekelud biji yang dianggap prosesi menghilangkan keletehan.
Pantangan lainnya adalah, perempuan yang sedang menstruasi juga tidak boleh menenun. Kegiatan menenun bisa dilakukan setelah tiga hari masa menstruasi, seusai keramas rambut.
Baca Juga: Kisah Wanita Bertaring dan Berlidah Panjang; Pernah Dirawat di RSJ hingga Muntahkan Paku
“Pantangan ini berlaku saat mulai menenun, yaitu dari proses pemintalan kapas menjadi benang, pewarnaan, pengeringan, sampai pada dengan menenenun,” tutupnya. ***
Editor : Nyoman Suarna