Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dana Punia Menurut Hindu: Tepat Dilakukan pada Zaman Kaliyuga, Swami Wiwekananda Ungkap Seperti Ini

Putu Agus Adegrantika • Rabu, 7 Februari 2024 | 16:39 WIB
DANA PUNIA: Menurut ajaran agama Hindu, dana punia paling tepat dilakukan pada zaman Kaliyuga.  Swami Wiwekananda ungkap seperti ini.
DANA PUNIA: Menurut ajaran agama Hindu, dana punia paling tepat dilakukan pada zaman Kaliyuga. Swami Wiwekananda ungkap seperti ini.

BALI EXPRESS –  Dalam kehidupan ini manusia disarankan untuk bersedekah. Bersedekah dalam ajaran agama Hindu disebut dengan dana punia.

Dana artinya pemberian, sedangkan punia artinya baik atau suci.

Lebih jauh penyuluh agama Hindu, Aris Widodo, menerangkan, dana punia artinya pemberian yang baik atau suci.

 “Bila kita menyadari, saat memberi jari tangan kita mencakup membentuk satu kesatuan. Jari memiliki karakteristik yang berbeda,” paparnya.

Hal tersebut dapat diartikan bahwa dana punia dapat mendorong terjadinya persatuan dan kesatuan antar sesame serta mempererat tali persaudaraan.

Salah satu ungkapan dalam ajaran Hindu menyebutkan “vasudaiva kutumbakam” yang artinya kita semua adalah bersaudara.

Hal ini, terang Aris Widodo, berarti bahwa dana punia adalah ungkapan kebersamaan dan persaudaraan.

Karena itu, dana punia penting dilakukan pada zaman sekarang, seperti disebutkan dalam Parasara Dharmasastra I.23:

tapah param kerta yuga

tretayam jnana mucyate

dvapare yajna waewahur

danamekam kalau yuge

Baca Juga: Soal Replik JPU, Prof Antara Singgung Sumpah Cor : Kenapa Saya Saja?

Artinya:

Pelaksanaan penebusan dosa yang ketat ( tapa) dilakukan pada zaman Satyayoga.  Sedangkan untuk mendapatkan pengetahuan tentang sang diri (jnana) dilakukan pada zaman Tretayuga.

Untuk pelaksanaan upacara kurban keagamaan (yajna) dilakukan pada masa Dwapara Yuga. Dan melaksanakan amal sedekah/dana punia (danam), paling tepat dilakukan pada zaman Kaliyuga.

Dari sloka di atas, kata Aris Widodo, dapat disimpulkan bahwa  pada zaman ini kebajikan yang perlu dilakukan adalah dana punia.

“Swami Wiwekananda membagi dana punia menjadi tiga macam, yaitu dhanta dana, vidya dana dan artha dana,” imbuhnya.

Pemberian itu bisa berupa nasehat, wejangan atau petunjuk hidup, yang mampu mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik (dhammadana).

Contohnya, orang tua mengarahkan anaknya untuk memegang dharma dalam segala perbuatannya.

Kemudian seorang guru memberikan pengetahuan kepada murid-muridnya.

Selain itu juga pemberian harta benda (arthadana) yang bertujuan untuk menolong atau menyelamatkan seseorang atau masyarakat. Misalnya bersedekah kepada meminta-minta.

Pemberian merupakan suatu hal yang mulia. Dalam Mahabharata disimbolkan oleh Radheya, putra Kunti dan Surya.

Saat Radheya selesai memuja matahari di siang hari, datanglah Dewa Indra yang menyamar sebagai seorang brahmana. Brahmana itu memohon diberikan sedekah.

Radheya menghormati brahmana tersebut dengan sujud di kakinya dan mempersilahkan duduk.  Brahmana itu meminta diberikan Kavaca dan Kundala. Namun Radheya menawarkan yang lainnya.

Singkat cerita Radheya tahu bahwa yang datang adalah Dewa Indra. Hal ini memberi makna bahwa pemberian itu merupakan hal  mulia. ***

Editor : Nyoman Suarna
#Dana punia #Swami Wiwekananda #zaman #hindu #kaliyuga