BALI EXPRESS – Pura Taman di Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng terbilang unik.
Salah satu hal yang membuat Pura Taman begitu istimewa adalah lokasinya yang terletak di tengah hutan.
Lokasi tepat di belakang bangunan bendungan Danu Kerthi Bali (bendungan Tamblang).
Tanpa adanya pelinggih atau bangunan suci lainnya, pura ini memperlihatkan keaslian dan kemurnian spiritualitasnya.
Tidak ada bangunan yang menghalangi pandangan, hanya tanah yang menjadi alasnya.
Perbekel Desa Bila, Ketut Artawa mengatakan, pengunjung yang ingin menjejakkan kaki di tempat suci ini harus mematuhi serangkaian larangan dan aturan yang telah ada sejak zaman dahulu.
Salah satunya adalah larangan menggunakan sarana persembahyangan yang berwarna merah.
Begitu juga dengan persembahan beras, hanya biji beras utuh yang boleh digunakan, tanpa cacat atau patah.
Yang sangat unik, persiapan upacara di Pura Taman dilakukan pada malam hari.
Hal ini dilakukan untuk menghindari gangguan dan agar persembahan tidak ternoda oleh serangga yang muncul pada siang hari.
Pura Taman memiliki dua stana yang mewakili sosok laki-laki dan perempuan, tetapi keduanya memiliki satu nama yaitu Ratu Ngurah Pingit.
“Meskipun yang sering muncul adalah sosok perempuan, namun kekuasaan sejati dipegang oleh sosok laki-laki,” ujarnya, Minggu (18/2) sore.
Keunikan lain yang tersimpan di dalam Pura Taman adalah beberapa lempeng prasasti yang diyakini berasal dari tahun Saka 945 atau sekitar tahun 1023 Masehi.
Salah satu prasasti mengisyaratkan tentang perpajakan yang menandakan pentingnya peran pura ini dalam melindungi masyarakat sekitarnya.
“Kami masyarakat Bila, yang telah ditunjuk oleh Raja Dharmawangsa sesuai dengan prasasti Bila I untuk menjaga pasraman ini. Kami merasa sangat dilindungi oleh keberadaan Pura Taman,” ujar Artawa. ***
Editor : Nyoman Suarna