BALI EXPRESS – Meski namanya mirip dengan nama sebuah wilayah di Jakarta yaitu Betawi, tetapi Pura Dalem Betawi terletak di Banjar Jumpayah, Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.
Pura Dalem Betawi tergolong unik karena memiliki palinggih Gedong Buddha Dewi Kwan Im, dan piodalannya bertepatan dengan Hari Raya Imlek.
Saat digelarnya piodalan Imlek, Pura Dalem Betawi dihias layaknya sebuah konco dengan menggunakan lampion dan ornamen-ornamen khas Cina berwarna merah.
Banyak orang-orang etnis Tionghoa datang bersembahyang dan ikut mempersiapkan sarana upakara saat piodalan Imlek di Pura Dalem Betawi.
Pemangku Pura Dalem Betawi, Jero Mangku Karda menjelaskan, keberadaan Pura Dalem Betawi tersirat dalam Purana Bangsul. Namun sejarahnya lebih berkembang di masyarakat melalui cerita-cerita para tetua.
Dalam berbagai cerita disebutkan, sejarah Pura Dalem Betawi dimulai dari kisah perjalanan Raja Jayangerat dan permaisurinya Ratu Manik Galih dari Kerajaan Guan di Cina yang berlayar ke samudra lepas menuju selatan.
Dalam pelayaran mereka melihat segumpalan tanah berupa lumpur, sehingga tertarik untuk mendekati lokasi itu.
Namun sebelum tiba di tujuan, Raja Jayangerat moksa sehingga perjalanan dilanjutkan oleh sang permaisuri.
Ketika sudah sampai di tujuan, Ratu Manik Galih berniat untuk moksa tetapi tidak diijinkan oleh ajudannya. Kabar ini dikirim ke Guan, sehingga datang abdi raja sebanyak 200 orang. Setelah itu Sang Ratu diijinkan melabuh geni.
Ratu Manik Galih dan suaminya Raja Jayangerat kemudian disemayamkan di Pura Sada di Desa Kapal.
Ajudan sekaligus penasehat Ratu Manik Galih bernama Santun melanjutkan perjalanan ke arah barat hingga sampai di suatu desa dengan hamparan pertanian.
Di tempat itu (sekarang bernama di Pura Gunung Sari) Santun memutuskan untuk bertapa dan melakukan meditasi sambil beristirahat.
Selanjutnya Santun memohon ijin kepada Ida Bhatara untuk mendirikan padukuhan, lalu medirikan pura di lahan alas bet (hutan rimba) yang kini bernama Pura Gunung Sari.
Editor : Nyoman Suarna