KARANGASEM, BALI EXPRESS - Desa Pempatan, tersembunyi di lereng Gunung Agung, karangasem, Bali, menjadi sorotan sebagai pusat kearifan lokal yang unik.
Salah satu keunikan yang menarik perhatian adalah kebiasaan atau tradisi Bali mereka yang menolak untuk membakar mayat saat ada yang meninggal dunia.
Bendesa Pempatan, I Nyoman Artama, mengungkapkan bahwa tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Desa Pempatan.
"Kami memegang teguh tradisi ini karena kami merupakan bagian dari Bali Mula, tempat di mana pembakaran mayat tidak diperkenankan," ujarnya saat dihubungi oleh Bali Express.
Menariknya, kebiasaan ini tidak hanya berlaku di Desa Pempatan, tetapi juga di Desa Adat Besakih, yang terletak di Kecamatan Rendang, Karangasem.
Kedua desa ini dianggap sebagai wilayah yang sakral, sehingga pembakaran mayat dianggap tidak pantas dilakukan.
Meskipun tanpa pembakaran mayat, Desa Pempatan memiliki sistem penguburan yang teratur.
"Kami memiliki kuburan yang cukup luas untuk mengubur anggota masyarakat yang telah meninggal dunia. Proses penguburan dilakukan dengan hormat, tanpa merusak kealamian," tambah Bendesa Artama.
Tradisi ini tidak hanya mencerminkan kekayaan budaya Desa Pempatan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi pembaca untuk menjelajahi sisi lain dari kehidupan masyarakat Bali yang kaya akan tradisi dan nilai-nilai spiritualnya.
Dengan keunikan ini, Desa Pempatan menjadi destinasi menarik bagi wisatawan yang ingin memahami lebih dalam keberagaman budaya Indonesia. ***