DENPASAR, BALI EXPRESS - Dalam menyambut Hari Pengerupukan (sehari sebelum Nyepi), tradisi membuat ogoh-ogoh telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Hindu Bali.
Namun, ketika kita berkunjung ke Desa Adat Renon, Denpasar, Bali, kita akan disuguhi inovasi menarik yang tak lazim.
Sebab, sejak tahun 1990-an, Desa Adat Renon melarang pembuatan ogoh-ogoh.
Hal ini memicu Karang Taruna Dharma Bakti Kelurahan Renon untuk menciptakan alternatif kreatif: Lomba Penjor.
"Kami menyadari kurangnya kreativitas dari Sekaa Teruna Teruni (STT) di Desa Adat Renon selama Pengerupukan. Oleh karena itu, kami mencetuskan Lomba Penjor sebagai kegiatan baru untuk pemuda-pemudi kami," ungkap Made Oka Mahendra, Pengurus Karang Taruna Dharma Bakti Kelurahan Renon.
Lomba ini diterima dengan antusias oleh STT, terbukti dari suksesnya penyelenggaraan pertama pada tahun 2023 lalu dengan tema penggunaan bahan alami.
Penjor, tradisional tanda kehadiran Pengerupukan, kembali meriah dengan bahan-bahan alami seperti busung tanpa bahan sintetis.
"Tujuan Lomba Penjor bukan sekadar untuk hiasan, tapi juga untuk menghormati tradisi keagamaan seperti Melasti yang berlangsung menjelang Pengerupukan. Kami ingin memberikan penghormatan melalui penjor kepada pura," jelas Oka.
Penjor-penjor indah itu mulai dipasang pada Kamis (7/3) dan telah diadakan sesi penjurian pada hari sebelumnya (8/3).
Tema tahun ini, "Dewata Nawa Sanga", memberikan kebebasan pada setiap STT untuk berkreasi dengan bahan-bahan ogoh-ogoh.
Dari Banjar Kelod, ada penjor yang mempersembahkan tema Dewa Sambu dengan warna biru yang khas. Tidak hanya itu, beberapa STT bahkan menciptakan penjor dengan sentuhan robotik yang mengagumkan.
"Kreativitas STT luar biasa. Kami tidak membatasi penggunaan robotik, mereka benar-benar bebas berkreasi dengan berbagai bahan," tambah Oka.
Penilaian penjor akan mencakup komposisi, kerapian, inovasi, dan kreativitas.
Pemenang akan diumumkan pada Renon Creative Festival, bertepatan dengan Hari Pengerupukan tanggal (10/3) mendatang.
Renon Creative Festival tidak hanya sekadar ajang seni, tetapi juga sebagai wadah bagi pemuda untuk menampilkan kreativitas mereka di depan Pura Bale Agung.
Para pemenang akan menerima uang, plakat, dan piagam.
"Dengan Lomba Penjor ini, kami berharap dapat menggantikan kekosongan dari pembuatan ogoh-ogoh. Inilah cara kami memperingati Pengerupukan di Renon," tutupnya. ***