BALI EXPRESS - Upacara Caru, bagian penting dari Bhuta Yadnya yang dilaksanakan umat Hindu Bali, yang menguak rahasia dalam menetralisasi energi negatif Panca Mahabhuta di Bhuana Agung.
Dilakukan hanya pada waktu-waktu tertentu, Macaru, seperti yang diungkapkan oleh Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda, memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam.
“Caru itu bentuk pengorbanan suci yang berfungsi sebagai penyeimbang energi di Bhuana Agung,” ujarnya.
Upacara ini memanfaatkan media pengorbanan seperti ayam Brumbun, yang memiliki bulu lima jenis warna, atau bahkan hewan lain seperti anjing belang bungkem atau sapi, tergantung pada kebutuhan dan tujuan penggunaannya.
“Tergantung penggunaannya, ada Caru yang menggunakan anjing belang bungkem, ada juga Caru yang menggunakan sapi atau hewan berkaki empat lainnya,” tegasnya.
Selain berperan sebagai pengharmonis dan penetral Bhuwana Agung, Caru juga mengungkapkan tingkatan prosesinya yang berkaitan dengan skala upacara.
Menurut penjelasan Ida Pandita, semakin besar Caru, semakin besar pula tingkatan prosesinya, dengan kebiasaan diulangi setiap 10 atau 20 tahun sekali.
Namun, ada pengecualian. Caru Madya dapat kembali dilaksanakan dalam keadaan tertentu, terutama saat terjadi kejadian ganjil atau durmanggala, seperti yang diungkapkan oleh Ida Pandita.
Keberadaannya menjadi penyeimbang dalam menghadapi peristiwa luar biasa yang mungkin mengganggu keseimbangan alam semesta.
Upacara Caru tidak hanya merangkum tradisi dan kepercayaan, tetapi juga menjadi cerminan dari hubungan yang erat antara manusia dan alam semesta.
Dengan pengorbanan yang dilakukan, diharapkan harmoni dan keseimbangan tetap terjaga di Bhuana Agung. ***