Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kriteria Pekarangan Baik dan Kurang Baik Menurut Kearifan Lokal Bali: Ada Solusi untuk Mengatasi Hal Buruk

I Putu Mardika • Selasa, 12 Maret 2024 | 21:16 WIB

 

Ilustrasi pekarangan rumah Bali
Ilustrasi pekarangan rumah Bali

BALI EXPRESS - Bagi umat Hindu di Bali, menata tata ruang dalam rumah serta pekarangan tidak hanya tentang estetika, tetapi juga mengenai harmoni dan keselarasan untuk penghuni.

Dosen STAHN Mpu Kuturan, Nyoman Suka Ardiyasa, menekankan pentingnya konsep Tri Angga, Tri Mandara, dan Tri Hita Karana dalam membangun rumah serta menata pekarangan bagi keluarga Hindu Bali.

Konsep-konsep ini, berakar dari Asta Bhumi dan Asta Kosala Kosali, memberikan panduan yang tak ternilai bagi umat Hindu Bali dalam menciptakan lingkungan rumah yang seimbang dan berdaya.

Dalam lontar klasik, seperti Lontar Tutur Bhagawan Wiswakarma, Bhamakretti, Japakala, dan Rontal Asta Bumi, terdapat petunjuk yang kaya akan hikmah.

Salah satunya adalah pemilihan tanah atau pekarangan, yang menjadi langkah awal dalam menciptakan sebuah rumah yang berenergi positif.

Nyoman Suka Ardiyasa menjelaskan bahwa dalam lontar, pekarangan diklasifikasikan berdasarkan posisi tinggi rendahnya.

Pekarangan yang Menyuburkan Kesejahteraan: Mengungkap Rahasia Pemilihan Tempat Tinggal Ideal

Dalam upaya menciptakan rumah yang memberikan kesejahteraan bagi penghuninya, pemilihan pekarangan yang tepat menjadi hal yang sangat penting.

Berdasarkan penjelasan Nyoman Suka Ardiyasa, terdapat kriteria yang dapat dijadikan pedoman dalam memilih pekarangan yang baik dan harmonis.

Menurut Ardiyasa, pekarangan yang berada pada sisi barat dengan elevasi sedikit lebih tinggi dapat dianggap sebagai tempat tinggal yang ideal.

“Begitu juga kalau tanah pekarangannya datar, baik untuk tempat tinggal, orang yang menempatinya murah rezeki,” sebut Suka Ardiyasa

Hal ini karena pekarangan seperti ini dianggap membawa kebahagiaan bagi penghuninya.

Demikian pula, pekarangan dengan ketinggian yang sama pada sisi selatan juga dinilai baik, karena dianggap membawa keberuntungan dan kecukupan bagi penghuninya.

Menghindari Pekarangan Tidak Baik: Memahami Ancaman dan Solusinya

Dalam upaya menciptakan lingkungan rumah yang harmonis, pemilihan pekarangan yang tepat menjadi kunci penting.

Dalam naskah klasik Bali seperti Lontar Tutur Bhagawan Wiswakarma, Bhamakretti, Japakala, dan Rontal Asta Bumi, terdapat pula kriteria yang harus dihindari dalam memilih pekarangan.

Salah satu poin yang ditekankan adalah pekarangan yang dianggap tidak baik atau bahkan angker.

Pekarangan dengan pintu masuknya yang berhadapan langsung dengan pintu masuk pekarangan lain di depannya, misalnya, dianggap sebagai pertanda buruk.

Dalam bahasa lokal, hal ini disebut sebagai "karang nyeleking", yang memiliki makna yang sangat negatif.

“Karang nyeleking namanya. Tidak baik,” jelasnya.

Pekarangan yang mengalami kondisi seperti ini dapat membawa dampak yang kurang baik bagi penghuninya.

Ancaman yang mungkin muncul bisa berupa sering terkena musibah atau kurangnya keberuntungan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, Ardiyasa tidak hanya memberikan informasi mengenai masalah tersebut, tetapi juga memberikan solusi yang sesuai dengan kearifan lokal.

Salah satu solusi yang diberikan adalah melakukan upacara pamahayu karang untuk menjaga energi positif di pekarangan yang terancam.

Pekarangan Baik dan Kurang Baik Menurut Kearifan Lokal Bali

Pekarangan Baik:

1.  Elevasi yang Mendukung Keharmonisan

Pekarangan dengan elevasi yang sedikit lebih tinggi di sisi barat atau selatan dianggap cocok untuk tempat tinggal, karena diyakini membawa kebahagiaan bagi penghuninya.

2.  Tata Letak yang Mendukung Kesejahteraan

Pekarangan yang tidak memiliki pintu masuk yang berhadapan langsung dengan pintu masuk pekarangan lain di depannya dinilai sebagai pekarangan baik.

Tata letak yang memperhatikan aspek ini dianggap mampu menjamin kesejahteraan bagi penghuninya.

3.  Energi yang Positif

Penempatan pintu masuk yang tepat dan tata letak yang terencana dengan baik diyakini mampu menciptakan energi yang positif di dalam pekarangan, yang berdampak pada kesejahteraan dan keberuntungan penghuninya.

Pekarangan Kurang Baik:

1.  Pintu Masuk yang Berhadapan Langsung

Pekarangan dengan pintu masuknya yang berhadapan langsung dengan pintu masuk pekarangan lain di depannya dianggap sebagai pekarangan kurang baik.

Hal ini dapat menyebabkan gangguan energi negatif dan berpotensi membawa masalah bagi penghuninya.

2.  Pekarangan yang Terletak pada Sudut Perempatan Jalan

Penempatan pekarangan pada sudut perempatan jalan atau gang dianggap sebagai tanda kurang baik.

Hal ini diyakini sebagai sumber energi yang tidak stabil dan dapat membawa ketidaknyamanan bagi penghuninya.

3.  Pekarangan yang Letaknya Dibelah oleh Jalan atau Gang

Pekarangan yang letaknya dibelah oleh jalan atau gang, dan letaknya tepat berhadap-hadapan atau sudutnya berhadapan, juga dianggap sebagai pekarangan kurang baik.

Hal ini dianggap dapat mengganggu keseimbangan energi di dalam pekarangan tersebut.

Pemahaman yang mendalam tentang kriteria-kriteria ini diharapkan dapat membantu masyarakat Bali dalam memilih pekarangan yang tepat, sehingga dapat menciptakan lingkungan rumah yang lebih harmonis dan memberikan perlindungan bagi penghuninya. ***  
 
 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #lontar #hindu #asta kosala kosali #pekarangan #rumah