Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Meriahnya Tradisi Mbed-mbedan di Desa Adat Semate, Badung Bali: Mirip Tarik Tambang, Erat dengan Sejarah Nama Desa

Putu Resa Kertawedangga • Rabu, 13 Maret 2024 | 14:06 WIB
Tradisi Mbed-mbedan di Desa Adat Semate, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali sehari setelah Nyepi, Selasa, 12 Maret 2024.
Tradisi Mbed-mbedan di Desa Adat Semate, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali sehari setelah Nyepi, Selasa, 12 Maret 2024.

MANGUPURA, BALI EXPRESS - Desa Adat Semate, Kelurahan Abianbase, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali menggelar tradisi Mbed-mbedan.

Tradisi Mbed-mbedan dilaksanakan bertepatan dengan Ngembak Geni, Selasa, 12 Maret 2024 atau sehari setelah Hari Raya Nyepi.

Tradisi yang mirip dengan lomba tarik tambang ini dilaksanakan di jaba Pura Desa dan Puseh Desa Adat Semate.

Meski mirip dengan tarik tambang, tradisi ini bukan untuk hiburan, melainkan sebagai tarik ulur pemberian nama Semate. 

Bendesa Adat Semate Gede Suryadi mengungkapkan, tradisi mbed-mbedan merupakan tradisi yang tercantum dalam Raja Purana Desa Adat Semate.

Dalam bhisama tersebut, tradisi ini wajib digelar sebagai peringatan pernah terjadinya tarik ulur dalam pengambilan keputusan terkait pemberian nama Desa Adat Semate.

“Tradisi ini tertuang dalam Raja Purana Desa Adat Semate, bahwa tradisi ini wajib kami jalankan karena berkaitan erat dengan sejarah terbentuknya nama desa adat kami. Jadi ini ada filosofi yang mendasari, bukan hiburan,” ujar Suryadi.

Menurutnya, tradisi Mbed-mbedan ini telah digelar sejak berdirinya Desa Adat Semate. Kemudian dari bhisama yang diterima setiap Ngembak Geni.

“Pelaksanaan Mbed-mbedan rangkaiannya adalah melaksanakan persembahyangan, menghaturkan persembahan tipat dan bantal, kemudian baru dilaksanakan Mbed-mbedan,” ungkapnya.

Tradisi Mbed-mbedan ini, diikuti oleh dua kelompok layaknya dua regu yang saling tarik dan ulur.

Kesempatan pertama dibuka oleh pemangku lanang istri, kemudian diikuti krama lanang istri sebagai lambang purusa pradana yang saling tarik ulur, lalu diikuti yowana, dan terakhir gabungan.

Tarik ulur mbed-mbedan pun berlangsung seru ditambah iringan baleganjur yang menambah semangat.

“Setelah itu apa yang diharurkan digunakan untuk makan bersama seluruh masyarakat. Kemudian dilakukan saling maaf-memaafkan bersama seluruh krama, prajuru, dan pemangku,” paparnya. 

Untuk pelaksanaan Mbed-mbedan, Suryadi menerangkan, dulunya menggunakan bun kalot yang merupakan tanaman merambat di desa tersebut.

Saat ini penggunaan tanaman bun kalot masih tetap digunakan sebagai simbolis saja, lantaran tanaman tersebut kini langka. 

“Para tetua kami menggunakan bun kalot, tanaman merambat yang tumbuh di Setra Desa Adat Semate. Memang bentuknya seperti tali, panjang, merambat, dan tidak kaku. Bun kalot ini masih kami lestarikan, hanya saja saat ini kami mohonkan sebagai simbolis saja,” terangnya. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #Mbed-Mbedan #nyepi #ngembak geni #tradisi #badung