Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Daftar 8 Jenis Pekarangan Kurang Baik bagi Umat Hindu di Bali: Solusi yang Efektif untuk Mengatasinya

I Putu Suyatra • Rabu, 13 Maret 2024 | 18:03 WIB
Palinggih padma capah sebagai salah satu solusi terhadap pekarangan yang kurang baik bagi umat Hindu Bali.
Palinggih padma capah sebagai salah satu solusi terhadap pekarangan yang kurang baik bagi umat Hindu Bali.

BALI EXPRESS - Pekarangan, tanah yang membentang sebagai pondasi bagi bangunan, bukan sekadar lahan biasa bagi masyarakat Hindu di Bali.

Ini adalah lanskap budaya yang menyimpan rahasia keberuntungan, sebagaimana diungkapkan oleh tokoh Hindu Bali, Pinandita Drs. I Ketut Pasek Swastika dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Bali Express (Jawa Pos Group).

Menurutnya, di balik keindahan arsitektur Bali yang kaya warisan, terdapat filsafat lama yang tak terpisahkan dari keberadaan agama Hindu di pulau itu.

Dari Mpu Kuturan hingga Dang Hyang Nirartha, para arsitek besar telah mewariskan pengetahuan tentang pentingnya pemilihan lokasi bangunan, sesuai dengan konsep tri mandala yang diwariskan oleh Mpu Kuturan.

"Pemilihan tempat untuk bangunan sangat penting karena berpengaruh pada penghuni bangunan tersebut," ujar Pinandita Pasek Swastika.

Astha Kosala-Kosali dan Astha Bhumi, panduan kuno dalam arsitektur Bali, dipercayai sebagai ajaran Feng Shui ala Bali.

Konsep ini menghubungkan energi alam dengan energi dalam tubuh manusia, yang jika selaras, akan membawa harmoni bagi kehidupan alam dan manusia.

Namun, tidak semua pekarangan cocok untuk dibangun tempat tinggal.

Menurut Pasek Swastika, ada beberapa jenis pekarangan yang perlu dihindari, seperti Karang Sandang Lawe, Karang Teledu Nginyah, Karang Ngulonin Banjar, Karang Kalingkuhan, Karang Sulanupi, Karang Catuspata, Karang Suduk Angga/Karubuhan, dan Karang Kuta Kubhanda atau Butha Kabanda.

Meski demikian, ada yang menarik dari penemuan ini.

Beberapa jenis pekarangan yang dianggap tidak baik untuk tempat tinggal, ternyata cocok untuk tempat usaha, seperti Karang Kuta Kubhanda atau Butha Kabhanda, Karang Suduk Angga/Karubuhan, Karang Catus Pata, dan Karang Sulanupi.

Dengan demikian, pekarangan Bali bukan sekadar lahan kosong, melainkan cerminan dari kompleksitas budaya dan spiritualitas yang kaya di pulau itu.

Mengetahui rahasia di balik pemilihan pekarangan bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga mengoptimalkan keberuntungan bagi penghuni masa depan.

Delapan Jenis Pekarangan Kurang Baik dan Solusi Mengatasinya:

1.  Karang Sandang Lawe

-  Pekarangan atau tempat tinggal berada di antara dua sisi jalan atau gang, tidak disarankan bagi satu keluarga.

Solusi: Pertimbangkan untuk membuat penghalang fisik atau gang kecil untuk memisahkan antara ruang pribadi dan area publik.

2.  Karang Teledu Nginyah

-  Pekarangan yang berseberangan dalam satu jalan atau gang dengan sudut pekarangan yang berhadap-hadapan.

-  Solusi: Sama seperti sebelumnya, pertimbangkan pembatas fisik atau penataan ulang ruang untuk meminimalkan paparan langsung.

3.  Karang Ngulonin Banjar utawi Pura

-  Pekarangan berada di bagian hulu bale banjar atau pura.

Solusi: Buatlah gang kecil di antara dua pekarangan untuk mengurangi gangguan dan mempertahankan privasi.

4.  Karang Kalingkuhan

-  Pekarangan pada sudut pekarangan tetangga.

Solusi:

-  Perluasan pekarangan atau pembangunan penghalang fisik untuk memperjelas batas-batas antara kedua properti.

-  Mengadakan pacaruan pamahayu pekarangan dan mendirikan padma capah di pintu keluar pekarangan dan distanakan Sang Hyang Indra Belaka atau Sang Hyang Kalamaya.

5.  Karang Sulanupi

-  Pekarangan berada pada pertigaan jalan atau gang.

Solusi:

-  Penggunaan dinding atau pagar yang sesuai untuk mengurangi gangguan dari lalu lintas dan aktivitas lingkungan.

-  Dibuatkan caru pamahayu pekarangan, yakni caru jigramaya.

-  Pada sudut pekarangan yang berhadapan dengan pertigaan dibuatkan padma capah dan distanakan Sang Hyang Indra Belaka atau Sang Hyang Kalamaya.

6.  Karang Catuspata atau Pempatan Agung

-  Pekarangan letaknya berhadapan dengan perempatan jalan atau gang.

Solusi:

-  Pembangunan pagar atau tembok untuk mengurangi gangguan dan menjaga privasi.

-  Mengadakan pacaruan pamahayu pekarangan.

-  Dirikan padma capah sebagai stana Sang Hyang Panca Durga, Sang Hyang Indra Belaka atau Sang Hyang Durga Maya.

7.  Karang Suduk Angga/Karubuhan

-  Pekarangan yang letaknya pada ujung jalan atau gang.

Solusi

-  Pemisahan yang jelas antara pekarangan dan area publik dengan menggunakan pagar atau taman.

-  Pacaruan pamahayu pekarangan.

-  Mendirikan padma capah di pintu keluar pekarangan dan distanakan Sang Hyang Indra Belaka atau Sang Hyang Kalamaya.

8.  Karang Kuta Kubhanda atau Butha Kabanda:

-  Pekarangan dikelilingi oleh jalan, gang, got, atau sungai.

Solusi:

-  Pembangunan pagar atau tembok yang kokoh serta penataan ulang ruang untuk meminimalkan gangguan dari lingkungan sekitar.

-  Mengadakan pacaruan pamahayu pekarangan.

-  Mmendirikan padma capah di pintu keluar pekarangan dan distanakan Sang Hyang Indra Belaka atau Sang Hyang Kalamaya.

Melalui pemahaman dan implementasi solusi yang tepat, pekarangan yang awalnya dianggap kurang baik dapat diubah menjadi lingkungan yang nyaman dan harmonis bagi penghuninya. ***

 

 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #pelinggih #padma capah #hindu #asta kosala kosali #pekarangan #arsitektur