KLUNGKUNG, BALI EXPRESS- Bertepatan dengan tilem sasih Kasanga, warga Desa Adat Lepang, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, terutama para pemuda sangat antusias pada malam hari.
Selain mengarak ogoh-ogoh, Desa Adat Lepang memiliki tradisi siat sampian.
Tradisi itu dilaksanakan di depan Pura Penyimpenan Desa Adat Lepang sebelum mengarak ogoh-ogoh.
Sesuai namanya, siat sampian menggunakan sarana sampian (rangkaian janur sebagai salah satu sarana upacara) yang telah disediakan oleh pihak desa adat setempat.
Nantinya, sarana tersebut akan dilempar ke masyarakat yang mengikuti jalannya prosesi tersebut.
Biasanya siat sampian ini dilaksanakan setelah sesuhunan di sana ngider bhuana (keliling desa) dan persembahyangan telah usai.
Bendesa Adat Lepang I Made Merta menjelaskan, tradisi ini rutin dilaksanakan setiap satu tahun sekali.
Tujuannya tidak lain untuk mengusir hawa negatif di dalam tubuh diri masing-masing.
“Secara spiritual, kita usir semua energi negatif di bhuana alit (tubuh). Tetap kita lestarikan,” ujarnya, Jumat, 15 Maret 2024.
Namun ditegaskan olehnya, tidak ada batasan bagi yang ingin mengikuti prosesi tersebut. Sekalipun itu sudah berkeluarga dan berumur, kalau masih berkeinginan untuk bergabung dipersilakan. “Tidak hanya pemuda saja, siapa yang mau ikut diperbolehkan,” tandasnya.
Meskipun ‘berperang’ yang notabene adalah saling lempar sampian dengan sekuat tenaga, namun para peserta dikatakan tidak ada rasa dendam sedikitpun.
Itu bisa dilihat dari raut wajah para peserta usai melaksanakan tradisi tersebut yang terlihat ceria.
“Tidak ada dendam dalam pelaksanaan itu, semuanya baik-baik saja,” lanjut Merta.
Setelah pelaksanaan itu berakhir, baru lah para pemuda di sana kembali ke rumah masing-masing dengan tujuan mempersiapkan diri mengarak ogoh-ogoh. (*)
Editor : I Made Mertawan