Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Uniknya Upacara Perkawinan Hindu di Bali, Gunakan Rantasan, Tipat Bantal hingga Keris: Ini Tujuannya

I Putu Mardika • Minggu, 17 Maret 2024 | 17:26 WIB
SIMBOL: Upacara perkawinan Hindu di Bali memakai berbagai sarana sebagai simbol, di antaranya rantasan, tipat bantal hingga keris.
SIMBOL: Upacara perkawinan Hindu di Bali memakai berbagai sarana sebagai simbol, di antaranya rantasan, tipat bantal hingga keris.

BALI EXPRESS - Upacara perkawinan Hindu di Bali menggunakan sarana berupa Rantasan.

Rantasan dibuat dari kain yang disusun (ditumpuk) sedemikian rupa dan terlihat indah.

Namun dalam upacara perkawinan atau pawiwahan di Tabanan, Bali menggunakan tigasan yang melambangkan laki-laki dan perempuan.

Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Wayan Murniti, M.Pd menjelaskan, Rantasan laki-laki dibuat dengan kain endek aneka warna yang dibentuk agak panjang dan menyerupai palus milik laki-laki.

Kain ini diatur sedemikian rupa di atas dulang dan paling atas ataupun puncak diisi udeng atau ikat kepala yang dipakai oleh laki-laki.

Rantasan perempuan dibuat dengan kain endek aneka warna yang dibentuk menyerupai badan perempuan.

Kain ditata sedemikian rupa di atas dulang dan paling atas ataupun puncak diisi canang iseh.

Rantasan yang dibuat untuk upacara wiwaha ini memang menyerupai tampilan laki-laki dan prempuan.

Biasanya kedua rantasan ini diletakkan berdampingan di bale dangin, sebagai tempat bagi mempelai laki-laki dan perempuan natab upakara medengen-dengen.

Pada waktu sembahyang dan natab banten, kedua pengantin akan disatukan dengan selembar kain kuning yang diletakkan di kedua pundak mempelai.

Hal ini merupakan simbol penyatuan kedua mempelai yang disatukan secara sekala dan niskala untuk mencapai kesetaraan gender.

Ada pula sarana Sesayut Ardanareswari. Alasnya berupa tamas sesayut berisi tumpeng kuning meplekir, dilengkapi dengan kuangen yang diisi bunga kuning.

Di sampingnya diisi pula tumpeng putih 1 yang hiasannya sama dengan tumpeng kuning.

Upakara ini dilengkapi dengan buah-buahan, jajan, sampian nagasari.

Diungkapkan Murniti, dalam upacara perkawinan terdapat upacara mejauman ataupun metipat bantal.

Kata mejauman berasal dari istilah jaum yang dalam bahasa Indonesia disebut jarum untuk menjarit. 

Dalam upacara perkawinan Hindu di Bali, jaum (jarum) merupakan simbol penyatuan keluarga purusa (pengantin pria) dan keluarga pradana (pengantin wanita) yang diwakili oleh tipat bantal.

Perpaduan simbol seks maskulin bantal dan tipat simbol seks feminin tampaknya menjadi inspirasi terciptanya bantal dan tipat.

Demikian pula terdapat penggunaan keris yang dipegang oleh pengantin laki-laki sebagai simbol laki-laki dan tikeh dadakan/tikar sebagai simbol perempuan.

“Setelah upacara mekala-kalaan, pengantin perempuan akan memegang tikeh dadakan lalu ditoreh dengan keris yang dibawa pengantin laki-laki sebagai simbol virginitas,” tutupnya.

Editor : Nyoman Suarna
#tipat bantal #bali #upacara #keris #hindu #rantasan #perkawinan