Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Mepajar di Pura Batur Sumerta: Tradisi Hindu Bali dalam Menjaga Keseimbangan Alam Semesta

I Putu Mardika • Rabu, 20 Maret 2024 | 15:58 WIB

Tradisi Mepajar serangkaian menetralisir energi negatif, Desa Adat Sumerta, Denpasar (ist)
Tradisi Mepajar serangkaian menetralisir energi negatif, Desa Adat Sumerta, Denpasar (ist)

DENPASAR, BALI EXPRESS - Desa Adat Sumerta di Denpasar Timur masih melestarikan Tradisi Mepajar di Pura Batur Sumerta. Tradisi Hindu Bali ini diyakini membawa keselamatan bagi lingkungan dan desa.

 

"Tradisi Mepajar di Pura Batur Sumerta adalah perwujudan kesetiaan kami terhadap warisan nenek moyang kami," ungkap I Made Ariawan Payuse, Bendesa Adat Sumerta.

Di Desa Adat Sumerta, Denpasar Timur, sebuah tradisi kuno terus dijaga dengan penuh kesetiaan.

"Ini bukan hanya sekadar tarian, tetapi sebuah upaya nyata untuk membawa keberkahan dan keselamatan bagi lingkungan serta desa kami," tambahnya.

Masyarakat setempat percaya bahwa tradisi ini tidak hanya sekadar pertunjukkan Tari Wali, tetapi juga membawa keberkahan dan keselamatan bagi lingkungan serta desa mereka.

"Mepajar adalah bukan hanya gerakan tarian, tetapi juga doa kami untuk menjaga keseimbangan alam semesta," jelas Payuse.

I Made Ariawan Payuse, Bendesa Adat Sumerta, menjelaskan bahwa Tradisi Mepajar dilaksanakan pada saat pelaksanaan piodalan, tepatnya pada hari Rabu, Buda Wage Wuku Langkir.

"Ini adalah momen yang sangat sakral karena hanya terjadi saat Piodalan Ageng," ungkapnya, menjaga kesuciannya di Natar Pura.

Tradisi Mepajar, yang diyakini mampu menjaga keseimbangan alam semesta dan mengusir wabah penyakit, menarik perhatian banyak orang.

"Kami percaya bahwa dengan tradisi ini, kami dapat menjaga keberkahan dan keselamatan bagi seluruh desa kami," tambahnya.

Cerita dari masa lampau menceritakan awal mula tradisi ini dilakukan ketika wabah penyakit melanda sebuah banjar, meninggalkan keresahan mendalam.

"Kami memohon bantuan dari tempat-tempat suci lainnya untuk menghilangkan wabah tersebut," ujarnya, menjelaskan perjuangan masyarakat.

Meskipun awalnya tradisi ini dilakukan pada setiap piodalan di Pura Batur Sumerta, seiring berjalannya waktu, kini hanya dilakukan pada Piodalan Ageng.

"Ini menambahkan keistimewaan tersendiri pada acara tersebut," tambah Payuse, mengundang rasa penasaran dan kekaguman dari para pengunjung.

Dengan pelaksanaan yang bergantian antara Piodalan Alit dan Piodalan Ageng, kegiatan ini menjadi sorotan pada hari Rabu, Buda Wage Wuku Langkir, yang terjadi setiap 210 hari sekali.

"Ini adalah upaya kami untuk terus menjaga keberkahan dan keselamatan bagi desa kami," ungkapnya.

Tradisi Mepajar di Pura Batur Sumerta bukan hanya sekadar acara adat, tetapi juga menjadi cerminan kearifan lokal dalam menjaga keselamatan dan keseimbangan alam.

Dengan pertunjukkan tarian yang sarat makna, tradisi ini terus memikat hati dan pikiran para penonton serta mengundang kekaguman dari generasi ke generasi. ***

 

 
Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #mesolah #desa adat #hindu #pura #tradisi