Pura Ratu Gede Empu Jagat: Tempat Suci Hindu dan Para Seniman Bali Memohon Taksu
I Putu Mardika• Kamis, 21 Maret 2024 | 15:45 WIB
Pura Ratu Gede Empu Jagat yang terletak di Desa Adat Sangkaragung, Kecamatan/Kabupaten Jembrana, menjadi tempat nunas Taksu bagi para seniman. (ist)
JEMBRANA, BALI EXPRESS - Pura Ratu Gede Empu Jagat di Desa Adat Sangkaragung, Jembrana, Bali, bukan hanya tempat suci bagi umat Hindu untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tetapi juga diyakini sebagai tempat untuk meminta taksu bagi para seniman.
Barong Jro Gede dan Kekuatan Gaibnya
Menurut I Ketut Wardana, tokoh masyarakat Sangkaragung, nama pura ini diambil dari nama Barong "Jro Gede" yang disakralkan di sana.
Barong ini diyakini memiliki kekuatan gaib dan mampu melindungi masyarakat Sangkaragung dari mara bahaya.
"Pada mulanya Barong ini merupakan tari sekeha Barong, di mana tarian Barong tersebut sebagai tarian utamanya," kata Wardana.
Sejalan dengan perkembangan kesenian Barong, mulai tumbuh kepercayaan masyarakat bahwa Barong ini memiliki suatu kekuatan gaib. Masyarakat menyebut kekuatan ini dengan sebutan Jero Gede.
"Bahkan diyakini dapat menghindarkan masyarakat Sangkaragung dari mara bahaya," ungkap Wardana.
Keinginan para pemucuk adat dan pemuka masyarakat ini mendapat dukungan dari sebagian besar Krama Desa Adat Sangkaragung.
"Dukungan juga datang dari seluruh krama Banjar Adat Samblong. Ditambah lagi sebagian krama Banjar Adat Pangkung Gondang yang menyatakan diri sebagai Pekandel (Penyungsung tetap yang sifat turun temurun) dari pura ini," jelas Wardana.
Tempat Memohon Keselamatan dan Taksu Kesenian
Pura Ratu Gede Empu Jagat menjadi tujuan bagi mereka yang ingin memohon keselamatan, kesembuhan, dan taksu kesenian seperti jegog, rindik, joged bungbung, dan lainnya.
Taksu ini diyakini tidak dapat ditemukan di pura lain di Desa Adat Sangkaragung.
"Pura Ratu Gede Empu Jagat ini memang memiliki keistimewaan dan keunikan tersendiri," kata Wardana.
"Pura Ratu Gede Empu Jagat dianggap istimewa karena sangat dipercaya sebagai media nunas taksu kesenian seperti, jegog, rindik, joged bungbung, dan kesenian lainnya. Taksu tersebut tidak bisa didapatkan di pura-pura lain yang ada di Desa Adat Sangkaragung," paparnya.
Kisah Warga yang Mendapatkan Taksu
Wardana menceritakan kisah seorang warga yang sering tangkil ke pura ini untuk meminta taksu.
"Setiap warga sekitar yang meminta taksu kesenian di pura tersebut merasa sangat nyaman dan lancar ketika menjalankan kesenian tersebut dan merasa lebih “melik”," terangnya.
Namun, taksu tersebut tidak akan bertahan lama jika tidak dijaga dengan rajin tangkil ke pura.
Wardana menceritakan kisah lain tentang seorang warga yang malas tangkil dan akhirnya taksu yang dimilikinya hilang, dan mengakibatkan dampak negatif pada keseniannya.
"Tetapi jika ingin taksu tersebut berlangsung lama sebaiknya rajin untuk bersembahyang di pura tersebut. Karena jika hanya tangkil sekali maka taksu tersebutpun tidak bisa bertahan lama dan akan mengakibatkan dampak negatif seperti yang dialami salah satu warga sekitar yang malas tangkil ke sana," kata Wardana.
"Nah, akibatnya kesenian yang dia miliki kurang bisa dilihat orang lain dan akhirnya tidak pernah dipanggil oleh orang lain yang memiliki Upacara Manusa Yadnya seperti mengundang jegog, joged bumbung, rindik,” paparnya.
Sejarah dan Tradisi Unik Pura
Pura ini tergolong fungsional dan penyungsungnya rata-rata berprofesi sebagai seniman.
"Wardana pun menceritakan jika dibangunnya pura ini diawali dari tumbuhnya kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan gaib dari Barong tersebut. Mulanya Barong tersebut merupakan barong kesenian yang dimiliki Sekehe Barong Desa Adat Sangkaragung yang digunakan pentas," terangnya.
Diperkirakan pada tahun 1850 pernah seluruh Desa Adat Sangkaragung terjangkit wabah penyakit.
"Setelah meminta obat dan petunjuk Barong tersebut akhirnya seluruh masyarakat dapat terselamatkan," kata Wardana.
Dari kejadian inilah masyarakat mulai sering menghaturkan upakara pada Barong tersebut.
"Juga dari kejadian ini Bapak I Nengah Korya dengan rela menyumbangkan tanahnya untuk membangun Pura Ratu Gede Empu Jagat," ungkapnya.
Pada tahun 1968 mulailah pembangunan pura ini dengan swadaya masyarakat dengan segala kesederhanaannya.
"Pada tahun 1970 pura itu dipelaspas (Ngenteg Linggih). Piodalan di pura ini pada Tumpek Wayang (Sabtu Kliwon wuku Wayang)," sebutnya.
Tradisi Nyolahang dan Ngelawang
Tradisi Nyolahang
Tradisi Nyolahang dilakukan satu hari sebelum piodalan (Kalipaksa) di Pura Ratu Gede Empu Jagat.
"Tradisi Nyolahang ini selalu dilaksanakan oleh masyarakat Desa Adat Sangkaragung, satu hari sebelum piodalan (Kalipaksa) di Pura Ratu Gede Empu Jagat,” sebut Wardana.
Tradisi ini diawali dengan menyembelih ayam dan menampung darahnya di tempurung kelapa.
"Darah ayam ini kemudian dipersembahkan di Sanggah Kliwon yang terbuat dari klatkat berbentuk segi tiga," kata Wardana.
Sanggah Kliwon ditancapkan di setiap pertigaan, perempatan, dan depan pura di Desa Adat Sangkaragung.
"Penempatan Sanggah Kliwon menandakan dimulainya upacara ngejaga, di mana masyarakat bersiap menyambutnya dengan persiapan materi dan diri," ungkap Wardana.
Tradisi Ngelawang
Tradisi Ngelawang ini dilaksanakan dengan Ngiring Barong Ratu Gede Empu Jagat.
"Proses ngelawang ini dilakukan dengan mengelilingi desa," kata Wardana.
Hal ini dipercaya dapat menetralisir hal negatif desa, juga dibarengi dengan upacara pecaruan di masing-masing pekarangan rumah.
"Upacara pecaruan ini bertujuan untuk membersihkan rumah dan halaman dari pengaruh negatif," jelas Wardana.
Pura Ratu Gede Empu Jagat: Destinasi Wisata Spiritual dan Budaya
Pura ini menjadi destinasi wisata spiritual dan budaya yang menarik untuk dikunjungi. Pengunjung dapat merasakan atmosfer spiritual yang kental, melihat arsitektur pura yang unik, dan mempelajari tradisi-tradisi yang masih dilestarikan. ***