Pura Luhur Pucak Kembar di Tabanan Bali: Keunikan Tapakan Nawa Sanga dan Tradisi Melancaran
I Putu Mardika• Selasa, 26 Maret 2024 | 02:50 WIB
TAPAKAN : Tapakan Nawa Sangga berwujud Barong Blas-blasan atau Wayang Wong di Pura Luhur Pucak Kembar yang terletak di Desa Adat Pacung, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali.
TABANAN, BALI EXPRESS - Pura Luhur Pucak Kembar di Desa Adat Pacung, Baturiti, Tabanan, memiliki keunikan yang tidak dimiliki pura Hindu lain di Bali.
Pura ini memiliki Tapakan Nawa Sanga yang berwujud Wayang Wong, bukan barong ket seperti umumnya.
Tapakan Nawa Sanga yang Unik
Tapakan Nawa Sanga di Pura Luhur Pucak Kembar terbuat dari serat kayu Padma, berbeda dengan tapakan di pura lain yang menggunakan daun Parasok atau rambut kuda.
Tapakan ini terdiri dari sembilan tokoh pewayangan, termasuk Rahwana, Sangut, Delem, dan enam Wre (kera).
Sejarah Tapakan Nawa Sanga
Menurut Bendesa Adat Pacung, Made Kariawan, Tapakan Nawa Sanga dibuat atas petunjuk Ida Sang Hyang Widhi untuk membantu Krama Subak Poyan/Peneng membangun bendungan.
"Konon, bendungan tersebut hanya bisa berhasil jika Tapakannya dibuat," ungkap Kariawan.
Pujawali dan Tradisi Melancaran
Pujawali di Pura Luhur Pucak Kembar jatuh pada Anggara Kliwon Prangbakat setiap 210 hari sekali.
Sedangkan Pujawali Ageng diadakan setiap satu setengah tahun sekali, dengan tradisi unik "Melancaran".
Tradisi Melancaran
"Setiap tiga tahun sekali sebelum Pujawali Ageng, Tapakan Nawa Sanga diarak keliling selama 42 hari ke 110 pura di empat kabupaten: Tabanan, Badung, Gianyar, dan Bangli," jelas Kariawan.