Tradisi Unik Hindu Bali: Ngusaba Gede Lanang Kapat Trunyan, Upacara Sakral dengan Persiapan Panjang
I Putu Mardika• Selasa, 26 Maret 2024 | 03:13 WIB
Tradisi Ngusaba Gede Lanang Kapat yang dilaksanakan pada Sasih Kapat di Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Bangli (ist)
BANGLI, BALI EXPRESS - Desa Trunyan di Kintamani, Bangli, Bali, terkenal dengan ritual Hindu uniknya, Ngusaba Gede Lanang Kapat.
Upacara ini menggunakan kerbau sebagai upakara utama untuk Ratu Sakti Pancering Jagat dan dimeriahkan Tari Wali Barong Brutuk.
Persiapan Sejak Sasih Karo
"Persiapan Ngusaba Gede Lanang Kapat tergolong panjang," ungkap Jero Mangku Permana, Wakil Bendesa Adat Trunyan.
Sejak Sasih Karo (Agustus), pratima diiringi ke Pura Gunung Paruman di kawah Batur Purba selama tiga hari. Ritual ini bertujuan memohon anugrah kelancaran upacara.
Pemangku membuat Malang Penglantih dari beras suci untuk ditukar dengan beras di desa lain. Hasil barter diolah untuk hidangan tamu.
Daun Pisang Kering dan Bale Pakemit
Lima belas hari setelah Tilem Ketiga, para teruna mencari daun pisang kering di desa Pinggan, Blandingan, atau Bayung.
"Daun pisang yang dicari jenis pisang kepok (biu kukun) yang dipotong pada bagian tangkainya sehingga seluruh daun kering terambil," kata Jero Mangku Permana.
Daun ini digunakan sebagai bulu Betara Brutuk. Menjelang Purnama Kapat, Bale Pakemit didirikan sebagai tempat mekemit para Daha Teruna selama upacara.