Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menyingkap Makna dan Fungsi Rajah dalam Tradisi Hindu Bali

I Putu Suyatra • Sabtu, 30 Maret 2024 | 03:56 WIB
Makna Rerajahan dalam ritual Hindu Bali
Makna Rerajahan dalam ritual Hindu Bali

DENPASAR, BALI EXPRESS - Rajah, atau dikenal pula sebagai Rerajahan, merupakan simbol magis yang erat kaitannya dengan budaya dan ritual Hindu Bali.

Simbol ini digambarkan dalam bentuk aksara dan gambar tertentu, dan dipercaya memiliki berbagai fungsi, seperti penyucian, pembersihan, pemberi kekuatan, dan panguripan.

Dr. I Made Adi Surya Pradnya, seorang dosen terkemuka dari UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, mengatakan, Rerajahan dijelaskan sebagai simbol yang memegang peran penting dalam berbagai ritual dan praktik keagamaan.

Menurut Dr. Pradnya, Rerajahan memiliki banyak fungsi, termasuk memberikan kekuatan, menyucikan, membersihkan, serta memandu dalam perjalanan spiritual.

“Tergantung tujuan Rerajahan itu dibuat untuk apa,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu (13/11/2016) di Denpasar.

Ia menekankan bahwa makna Rerajahan tergantung pada tujuan pembuatannya, dengan contoh seperti gambar Semara-Ratih yang melambangkan keindahan, atau Pangasih-asihan yang menggambarkan Dewi Durga.

Lebih lanjut, Dr. Pradnya menjelaskan bahwa Rerajahan tidak hanya sekadar simbol, tetapi melibatkan prosesi ritual yang mendalam untuk memberikan kekuatan.

Proses pembuatan Rerajahan, atau Ngarajah, melibatkan pemilihan hari yang baik dan penggunaan sarana yang sesuai, seperti logam atau batu permata.

Media tempat penulisan Rerajahan juga bervariasi, mulai dari batu, kertas, hingga kain.

Pentingnya pemilihan hari yang tepat dan penggunaan mantra-mantra tertentu juga ditekankan dalam proses ini.

Dr. Pradnya juga menjelaskan bahwa prosesi Ngarajah melibatkan tahapan pembersihan fisik dan spiritual, serta penggunaan alat-alat yang khusus.

Intinya mengatakan bahwa Rerajahan hanya berupa simbol, sehingga seseorang bisa fokus, dan energi yang berhubungan dengan simbol tersebut bisa bangkit atau masuk.

Dengan demikian, Rerajahan tersebut tidak bisa berdiri sendiri, namun ada prosesi selanjutnya, seperti ritual memasukkan kekuatan atau roh dan sebagainya.

“Jadi ada prosesnya, sehingga simbol tersebut bisa berfungsi,” terangnya.

Dalam agama Hindu, Rerajahan sering disebut sebagai yantra, yang setelah disempurnakan melalui prosesi ritual, dapat menghasilkan energi spiritual yang kuat.

Setelah selesai, Rerajahan bisa ditempatkan pada berbagai media, termasuk kain kasa untuk ulap-ulap atau pada sasabukan yang diikatkan pada pinggang.

Untuk Ngarajah sarira atau badan, dia menjelaskan, alat untuk nulis adalah katik don base (tangkai daun sirih) yang pada pangkalnya bercabang tiga, sperti Trisula.

“Banyak ada katik base seperti itu,” ujarnya.

Sementara sebagai “tinta”, biasanya digunakan madu.

Dengan tangkai daun sirih tersebut, madu dioleskan pada bagian tubuh seperti dahi, lidah, tengkuk, dan sebagainya.

Pun dalam prosesi tersebut yang marajah dan dirajah sudah melewati proses ritual tertentu.

Biasanya prosesi ini adalah bagian dari pawintenan atau panugrahan dalam mempelajari ilmu tertentu.

Kalau Pawintenan atau Panugrahan tersebut diikuti lebih dari satu orang, dosen Brahma Widya tersebut menyarankan, agar setiap orang menggunakan satu tangkai daun sirih.

Artinya, tangkai daun tersebut hanya sekali pakai.

“Itu untuk menghindari penyebaran penyakit, karena penyebaran penyakit salah satunya dari air liur. Kadang satu katik base dipakai banyak orang,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, prosesi Ngarajah memiliki beberapa tahapan, namun secara garis besar, pertama adalah pembersihan scara fisik orang yang akan dirajah, misalnya melalui puasa, mandi, dan keramas.

Setelah itu, yang bersangkutan diperciki dengan toya anyar atau air kelapa gading serta sembahyang. Prosesi kemudian berlanjut pada Ngarajah.

Setelah selesai, yang bersangkutan ngayab banten prayascita, pangulapan, dan padurmanggalan.

“Tapi, di lapangan ada juga yang natab dahulu, baru kemudian dirajah. Jadi, tergantung bagi pelaksana atau guru yang Ngarajah,” jelasnya.

Selain badan, ada pula Rerajahan yang ditulis pada kain kasa dan ditempel pada bangunan, seperti rumah dan palinggih, yang dinamakan ulap-ulap.

“Aksara yang digunakan biasanya adalah modre,” ujar Jro Dalang Roby.

Fungsi dari ulap-ulap ini sebagai simbol panguripan (penghidupan) saat upacara pamlaspasan bangunan tersebut.

Di samping itu, Rerajahan juga ada di kain kerudung barong, rangda, dan kajang.

Bahkan, Rerajahan juga terdapat pada sasabukan atau jimat yang diikatkan pada pinggang, seperti sabuk.

Pada sasabukan Rerajahan dibuat di atas kain dan dimasukkan sarana-sarana lainnya sesuai fungsinya.

Ada yang untuk kekebalan, pangasihan, wibawa, dan sebagainya.

Sedangkan untuk menyakiti orang, Rerajahan menggunakan sarana berupa batu yang didapat dari laut.

“Batu tersebut kemudian dirajah, ditanam di kuburan, dan dilempar ke rumah target,” bebernya.

Terlepas dari kepercayaan dan praktik spiritual, Dr. Pradnya menyoroti bahwa Rerajahan juga telah berevolusi menjadi karya seni, seperti kaligrafi.

Namun, ia menekankan bahwa kekuatan Rerajahan tidak hanya terletak pada estetika tulisan atau gambar, melainkan juga pada keseluruhan proses ritual yang melibatkan penggunaan sarana dan media yang sesuai.

“Banyak yang bisa membuat gambar yang bagus, tapi tidak efektif kalau tanpa proses yang benar. Demikian pula sarana dan media yang sesuai,” jelasnya.

Dengan demikian, Rerajahan tetap menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Bali, yang mengandung makna mendalam serta kekuatan spiritual yang unik.

Fungsi dan Makna Rajah:

Jenis Rajah dan Media:

Proses Pembuatan Rajah:

Tahapan Ngarajah:

  1. Pembersihan fisik orang yang akan dirajah (puasa, mandi, keramas).
  2. Percikan toya anyar (air kelapa gading) dan sembahyang.
  3. Ngarajah.
  4. Ngayab banten prayascita, pangulapan, dan padurmanggalan.

Penggunaan Rajah:

Rajah bukan hanya simbol magis, tetapi juga memiliki makna dan fungsi yang beragam dalam kehidupan masyarakat Bali.

Proses pembuatannya pun memiliki ritual dan tahapan tertentu. Kini, Rajah telah berkembang menjadi karya seni yang indah. ***

 

Editor : I Putu Suyatra
#rerajahan #ritual #bali #hindu #simbol