Kedua, sebagai rasa syukur atas kesehatan dan keselamatan bayi.
Ketiga, mempersiapkan bayi untuk waspada terhadap pengaruh panca indra.
Sebelum menjalani Upacara Nyambutin, bayi dianggap cuntaka dan belum bisa memasuki merajan.
"Merajan adalah tempat suci di rumah umat Hindu Bali," jelas Mangku Nyoman.
"Bayi yang belum menjalani Upacara Nyambutin belum diperbolehkan masuk karena dianggap masih cuntaka."
Rangkaian Upacara Nyambutin diawali dengan matur piuning di sanggah merajan, dilanjutkan dengan ritual di pertiwi (tanah), catur sanak (di depan sanggah cucuk tempat ari-ari dikubur), melinggihkan kumara (bayi) di tempat tidurnya, melukat, dan metataban di bale dangin.
"Matur piuning adalah memohon izin kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk melaksanakan upacara," kata Mangku Nyoman.
Ritual di pertiwi dan catur sanak bertujuan untuk memohon keselamatan dan perlindungan bagi bayi.
Banten yang digunakan dalam upacara ini antara lain janganan, bebangkit, suci soroan, peras penyeneng, plegembal, sor berisi gelar sange dan jerimpen, bebanten sambutan, dan ajengan biasa manutwarna pengider-ider.
"Banten adalah persembahan yang dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa," jelas Mangku Nyoman.
Setiap jenis banten memiliki makna dan tujuan yang berbeda-beda.
Upacara Nyambutin mencerminkan nilai-nilai spiritual dan budaya yang kaya dalam tradisi Hindu Bali.
Ini menjadi momen penting bagi keluarga dan mengantarkan bayi memasuki tahap baru dalam kehidupannya.