DENPASAR, BALI EXPRESS - Rerajahan, sebuah tradisi spiritual Hindu Bali yang menggunakan aksara suci untuk berbagai tujuan, harus dilakukan dengan benar dan hati-hati.
Kesalahan dalam prosesi Rerajahan dapat membawa akibat fatal, seperti terkena kutukan, bahkan kegilaan.
Dr. I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag., M.Fil.H alias Jro Dalang Nabe Roby, Dosen UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, menjelaskan bahwa Guru Rerajahan harus teliti, terutama dalam Ngarajah (menggambar) aksara pada muridnya.
Baca Juga: Upacara Nyambutin: Ritual Tiga Bulanan Bayi Hindu Bali Penuh Makna
Satu kesalahan aksara saja dapat memengaruhi sikap dan perilaku murid, terutama pada Aji Kreket atau modre.
"Guru harus benar-benar paham aksara dan penempatannya. Kesalahan penempatan dapat membawa pengaruh besar pada keseimbangan unsur api, air, dan angin dalam tubuh orang yang dirajah," papar Jro Dalang Roby.
Ketidakseimbangan unsur ini dapat mengakibatkan efek seperti merasa dingin saat cuaca panas, dan sebaliknya.
Lebih parah lagi, orang tersebut bisa mengalami "hang" atau nyem-nyeman, yang dalam kundalini disebut sindrom kundalini.
Pengobatan sindrom ini membutuhkan Guru Rerajahan atau orang yang lebih ahli.
Orang yang sudah dirajah juga harus mematuhi pantangan untuk menjaga kesuciannya.
Ketidakpatuhan dapat menghilangkan fungsi Rerajahan dan bahkan memengaruhi kejiwaan orang tersebut.
"Rerajahan bukan permainan. Ini memerlukan kesiapan lahir dan batin. Aksara Rerajahan bukan sekadar aksara biasa, tapi memiliki pengaruh besar pada keseimbangan tubuh dan jiwa seseorang," tegas Jro Dalang Roby. ***