BALI EXPRESS - Persimpangan jalan di Bali, khususnya pertigaan dan perempatan, sering kali disakralkan dan disebut sebagai Catus Pata atau Pempatan Agung.
Di tengahnya terdapat palinggih tempat pemujaan bagi umat Hindu Bali yang menjadi simbol kesucian dan titik sakral.
Menurut cerita kuno, konsep Catus Pata, beserta hulu-teben yang terkait dengannya, mencakup susunan spasial pemukiman, termasuk pura, balai desa, pasar, area pemukiman, dan lainnya.
Tempat-tempat suci ini memfasilitasi pertemuan publik dan memastikan akses yang mudah ke fasilitas penting.
Berfungsi sebagai inti kehidupan desa, Catus Pata merangkum dengan erat ritual-ritual upacara, terutama yadnya.
Selama prosesi menghormati dewa atau yang meninggal, ada tradisi mengelilingi palinggih yang disebut ngider bhuwana.
Ngider bhuwana, terbagi menjadi Purwa Daksina dan Prasawya, melambangkan penciptaan dan pembubaran, secara berurutan.
Baik merayakan kehidupan atau mengucapkan selamat tinggal kepada yang meninggal, ritual-ritual ini menyatukan masyarakat dalam perjalanan spiritual bersama.
Lalu, dewa-dewa apa yang disembah di persimpangan ini?
Menurut akademisi UHN I Gusti Bagus Sugriwa, Dr. Drs. I Ketut Sumadi, S.Ag., M. Par., di pertigaan jalan yang malinggih adalah Sang Hyang Sapuh Jagat.
Sedangkan di perempatan jalan yang malinggih adalah Sang Hyang Catur Bhuwana.
Hal itu berdasarkan Lontar Gong Besi yang menyebutkan bahwa:
“…Ketika beliau (Ida Bhatara Dalem) berstana di Pura Puseh, maka Sanghyang Triyodasa Sakti nama beliau. Ketika berstana di Pura Desa maka Sanghyang Tri Upasedhana sebutan beliau. Di Pura Bale Agung, beliau dipuja sebagai sebutan Sanghyang Bhagawati. Di perempatan jalan raya beliau dipuja sebagai Sanghyang Catur Bhuwana. Ketika beliau berstana di pertigaan jalan raya, disebut dengan Sanghyang Sapuh Jagat...”.
Lebih lanjut, Sumadi menjelaskan, Sang Hyang Sapuh Jagat yang menguasai pertigaan merupakan simbolisasi energi Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa, sesuai bentuk segitiga.
“Makanya disebut Sang Hyang Sapuh Jagat, tugas beliau membersihkan segala macam mala," katanya.
"Oleh karena itu di pertigaan biasanya mencari panglukatan atau penyembuhan,” imbuhnya.
Sementara itu, perempatan menurutnya sesuai konsep Panca Dewata, yakni di Utara Dewa Wisnu, di timur Dewa Iswara, di Selatan Dewa Brahma, di Barat Dewa Mahadewa, dan di tengah adalah Dewa Siwa.
Oleh karena itu, di perempatan biasanya dibuatkan patung catur muka.
Selain itu, perempatan merupakan tempat ritual panebusan dilakukan.
“Selain ngider bhuwana, biasanya juga dilakukan ritual panebusan di perempatan, karena konsepnya nyatur bhuwana,” jelasnya.
Fungsi dan Makna Catus Pata:
- Pusat wilayah: Menjadi tempat strategis dan ramai karena mudah diakses.
- Simbol kesakralan: Ditetapkan oleh Raja atas petunjuk Bhagawanta dan memiliki hubungan erat dengan pelaksanaan upacara yadnya.
- Penataan tata ruang: Konsep penataan pemukiman di Bali dengan pura, bale banjar, pasar, dan lainnya di sudut-sudut Catus Pata.
Ritual di Catus Pata:
- Ngider bhuwana: Mengitari palinggih di Catus Pata saat mengarak ida bhatara atau jenazah.
- Purwa daksina: Arah kanan ke kiri, simbol penciptaan, penghormatan, dan peningkatan status.
- Prasawya: Arah kanan ke kiri, simbol peleburan dan penurunan status.
Baca Juga: Upacara Ngulapin Dewi Sri: Sebuah Ritual Hindu Bali Memanggil Dewi Kesuburan Pasca Bencana
Ida Bhatara yang Malinggih di Catus Pata:
- Pertigaan jalan: Sang Hyang Sapuh Jagat (melambangkan Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa)
- Perempatan jalan: Sang Hyang Catur Bhuwana (melambangkan Panca Dewata)
Pertigaan dan Perempatan: Simpul Energi Alam:
- Tempat mencari panglukatan dan penyembuhan (pertigaan)
- Tempat ritual panebusan (perempatan)
- Titik energi alam mudah diakses dengan tujuan tertentu
Catus Pata bukan hanya persimpangan jalan biasa, tetapi memiliki makna dan fungsi sakral dalam budaya Bali.
Ritual dan simbolisme di Catus Pata mencerminkan konsep spiritualitas dan keseimbangan alam dalam kehidupan masyarakat Bali. ***