Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Catus Pata: Persimpangan Sakral di Bali Penuh Makna dan Ritual Hindu, Ida Bhatara yang Melinggih dan Beda Perempatan dan Pertigaan

I Putu Suyatra • Minggu, 31 Maret 2024 | 02:30 WIB
Catus Pata adalah salah satu tempat yang disakralkan bagi umat Hindu di Bali.
Catus Pata adalah salah satu tempat yang disakralkan bagi umat Hindu di Bali.

BALI EXPRESS - Persimpangan jalan di Bali, khususnya pertigaan dan perempatan, sering kali disakralkan dan disebut sebagai Catus Pata atau Pempatan Agung.

Di tengahnya terdapat palinggih tempat pemujaan bagi umat Hindu Bali yang menjadi simbol kesucian dan titik sakral.

 

Menurut cerita kuno, konsep Catus Pata, beserta hulu-teben yang terkait dengannya, mencakup susunan spasial pemukiman, termasuk pura, balai desa, pasar, area pemukiman, dan lainnya.

Tempat-tempat suci ini memfasilitasi pertemuan publik dan memastikan akses yang mudah ke fasilitas penting.

Berfungsi sebagai inti kehidupan desa, Catus Pata merangkum dengan erat ritual-ritual upacara, terutama yadnya.

Selama prosesi menghormati dewa atau yang meninggal, ada tradisi mengelilingi palinggih yang disebut ngider bhuwana.

Ngider bhuwana, terbagi menjadi Purwa Daksina dan Prasawya, melambangkan penciptaan dan pembubaran, secara berurutan.

Baik merayakan kehidupan atau mengucapkan selamat tinggal kepada yang meninggal, ritual-ritual ini menyatukan masyarakat dalam perjalanan spiritual bersama.

Lalu, dewa-dewa apa yang disembah di persimpangan ini?

Menurut akademisi UHN I Gusti Bagus Sugriwa, Dr. Drs. I Ketut Sumadi, S.Ag., M. Par.,  di pertigaan jalan yang malinggih adalah Sang Hyang Sapuh Jagat.

Sedangkan di perempatan jalan yang malinggih adalah Sang Hyang Catur Bhuwana.

Hal itu berdasarkan Lontar Gong Besi yang menyebutkan bahwa:

“…Ketika beliau (Ida Bhatara Dalem) berstana di Pura Puseh, maka Sanghyang Triyodasa Sakti nama beliau. Ketika berstana di Pura Desa maka Sanghyang Tri Upasedhana sebutan beliau. Di Pura Bale Agung, beliau dipuja sebagai sebutan Sanghyang Bhagawati. Di perempatan jalan raya beliau dipuja sebagai Sanghyang Catur Bhuwana. Ketika beliau berstana di pertigaan jalan raya, disebut dengan Sanghyang Sapuh Jagat...”.

Lebih lanjut, Sumadi menjelaskan, Sang Hyang Sapuh Jagat yang menguasai pertigaan merupakan simbolisasi energi Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa, sesuai bentuk segitiga.

“Makanya disebut Sang Hyang Sapuh Jagat, tugas beliau membersihkan segala macam mala," katanya.

"Oleh karena itu di pertigaan biasanya mencari panglukatan atau penyembuhan,” imbuhnya.

Sementara itu, perempatan menurutnya sesuai konsep Panca Dewata, yakni di Utara Dewa Wisnu, di timur Dewa Iswara, di Selatan Dewa Brahma, di Barat Dewa Mahadewa, dan di tengah adalah Dewa Siwa.

Oleh karena itu, di perempatan biasanya dibuatkan patung catur muka.

Selain itu, perempatan merupakan tempat ritual panebusan dilakukan.

“Selain ngider bhuwana, biasanya juga dilakukan ritual panebusan di perempatan, karena konsepnya nyatur bhuwana,” jelasnya.

 

Fungsi dan Makna Catus Pata:

Ritual di Catus Pata:

Baca Juga: Upacara Ngulapin Dewi Sri: Sebuah Ritual Hindu Bali Memanggil Dewi Kesuburan Pasca Bencana

Ida Bhatara yang Malinggih di Catus Pata:

Pertigaan dan Perempatan: Simpul Energi Alam:

Catus Pata bukan hanya persimpangan jalan biasa, tetapi memiliki makna dan fungsi sakral dalam budaya Bali.

Ritual dan simbolisme di Catus Pata mencerminkan konsep spiritualitas dan keseimbangan alam dalam kehidupan masyarakat Bali. *** 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #Perempatan #Brahma #Wisnu #hindu #pertigaan #Catus Pata #siwa