BALI EXPRESS - Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Klungkung, Bali, memiliki tradisi Hindu bernama mecaru mejaga-jaga yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya mereka.
Upacara ini, yang rutin diadakan setiap tahun sejalan dengan tilem sasih karo.
Acara yang berlangsung di catus pata, desa tersebut, biasanya menarik perhatian dengan kesetiaannya terhadap adat dan kepercayaan nenek moyang mereka.
Menurut Wayan Sulendra, tokoh Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, upacara ini sangatlah penting dan tak boleh diabaikan.
“Sampai sekarang kami tidak berani tak menggelarnya. Ketika tidak dilaksanakan prosesi upacara ini, maka akan terjadi malapetaka,” ujarnya.
Sejarah mencatat bahwa saat upacara ini ditiadakan, desa tersebut menghadapi bencana, termasuk kegagalan panen yang mengganggu mata pencaharian para petani setempat.
Salah satu unsur penting dalam upacara mecaru mejaga-jaga adalah penggunaan seekor sapi yang dipilih dengan teliti.
Hanya sapi-sapi terbaik yang dipilih, dan hanya keturunan pemangku prajapati, pemangku catus pata, serta pamong dalem yang memiliki kehormatan untuk memilihnya.
Prosesi dimulai sekitar pukul 07.00, di mana sapi yang telah dimandikan diarak ke arah utara menuju ujung desa sebelah utara, lalu diarak ke selatan menuju batas desa, dan kemudian diarahkan ke timur hingga perbatasan desa sebelah timur.
“Diarak ke barat sampai di depan Pura Prajapti. Kaki belakang mana yang lebih agak ke belakang, itu ditebas. Kemudian kembali ke catus pata untuk upacara selanjutnya,” jelasnya.
Setiap kali sapi berhenti, prosesi upacara dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh pemangku catus pata, menggunakan peralatan yang disakralkan.
Salah satu aspek yang menarik dari upacara ini adalah kepercayaan akan kekuatan penyucian darah sapi.
Masyarakat setempat berebut mencari darah sapi tersebut karena diyakini memiliki kekuatan penyembuhan dan membersihkan diri dari berbagai penyakit.
Tradisi ini juga diyakini membawa keselamatan bagi desa mereka, baik secara spiritual maupun fisik.
Dengan kekayaan budaya dan kepercayaan yang mereka junjung tinggi, masyarakat Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa tetap teguh mempertahankan tradisi mecaru mejaga-jaga sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas mereka. ***