BALI EXPRESS - Catus Pata atau Pempatan Agung atau perempatan bukan sekadar persimpangan jalan biasa bagi umat Hindu di Bali.
Di balik kesederhanaannya, tersembunyi simpul energi dahsyat yang konon dimanfaatkan para leluhur dan pembelajar ilmu spiritual.
Energi Dahsyat dan Manfaatnya
Energi di Catus Pata diyakini amat kuat dan mampu mendatangkan manfaat positif bagi desa setempat. Konon, energi ini diikat secara gaib untuk:
- Menjaga keseimbangan alam semesta
- Menetralisir energi negatif
- Mendatangkan kemakmuran dan keselamatan bagi warga
Sejarah dan Mitos
Menurut lontar kuno seperti Dewa Tattwa dan Eka Pratama, Catus Pata memiliki peran penting dalam ritual Caru dan Tawur Kesanga.
Di tempat ini pula Dewi Uma dikisahkan berubah menjadi Bhatari Durga untuk menciptakan Bhuta Kala dan Sang Pretanjala berubah menjadi Maha Kala.
Kisah Penciptaan Alam Semesta
Lontar Bhumi Kamulan dan Siwa Gama menceritakan kisah penciptaan alam semesta oleh Bhatara Siwa.
Sang Pretanjala, putranya, dibantu Dewi Uma dalam tugas ini.
Dewi Uma menjelma menjadi Bhatari Durga dan menciptakan berbagai mahluk halus, termasuk Bhuta Kala.
Sang Pretanjala kemudian berubah menjadi Mahakala dan menciptakan Panca Mahabhuta. Keempat saudaranya pun diberi kedudukan di empat penjuru mata angin.
Tempat Keramat untuk Ilmu Pangiwa
Dulu, Catus Pata menjadi tempat para pembelajar Ilmu Pangiwa mencari panugrahan Dewi Durga dan Sang Mahakala.
Konon, mereka bisa mendapatkan energi dengan ritual khusus di tempat ini.
Modernisasi dan Masa Kini
Seiring perkembangan zaman, kawasan Catus Pata kini telah ramai dan menjadi pusat bisnis di pedesaan. Fenomena spiritual seperti dulu pun jarang terjadi.
Fungsi dan Makna Catus Pata:
- Pusat wilayah: Catus Pata menjadi tempat strategis yang ramai karena mudah diakses.
- Simbol kesakralan: Ditetapkan oleh Raja atas petunjuk Bhagawanta dan memiliki hubungan erat dengan pelaksanaan upacara yadnya.
- Penataan tata ruang: Konsep penataan pemukiman di Bali dengan pura, bale banjar, pasar, dan lainnya di sudut-sudut Catus Pata.
Ritual di Catus Pata:
- Ngider bhuwana: Mengitari palinggih di Catus Pata saat mengarak ida bhatara atau jenazah.
- Purwa daksina: Arah kanan ke kiri, simbol penciptaan, penghormatan, dan peningkatan status.
- Prasawya: Arah kanan ke kiri, simbol peleburan dan penurunan status.
Ida Bhatara yang Malinggih di Catus Pata:
- Pertigaan jalan: Sang Hyang Sapuh Jagat (melambangkan Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa)
- Perempatan jalan: Sang Hyang Catur Bhuwana (melambangkan Panca Dewata)
Pertigaan dan Perempatan: Simpul Energi Alam:
- Tempat mencari panglukatan dan penyembuhan (pertigaan)
- Tempat ritual panebusan (perempatan)
- Titik energi alam mudah diakses dengan tujuan tertentu
Catus Pata bukan hanya persimpangan jalan biasa, tetapi memiliki makna dan fungsi sakral dalam budaya Bali.
Ritual dan simbolisme di Catus Pata mencerminkan konsep spiritualitas dan keseimbangan alam dalam kehidupan masyarakat Bali. ***
Editor : I Putu Suyatra