BALI EXPRESS - Layang-layang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan budaya Bali selama berabad-abad.
Dengan gemerlapnya festival layang-layang yang semakin meluas di Bali dalam beberapa tahun terakhir, tradisi yang kaya ini semakin dikenal secara luas.
Permainan layang-layang, atau yang dikenal sebagai 'melayangan' di Bali, bukan sekadar hiburan, tetapi juga merupakan ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Gede Anom Ranuara, seorang budayawan terkemuka dari Kota Denpasar, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan bagian dari warisan turun-temurun masyarakat Bali.
"Dalam budaya Jawa dan Bali, menerbangkan layangan adalah cara untuk mengucapkan terima kasih kepada Sang Pencipta. Ini adalah bagian dari kehidupan sehari-hari di ladang," jelas Anom Ranuara.
Namun, meskipun tradisi ini masih kuat di Bali, Anom menyoroti penurunan popularitasnya di Jawa karena pengaruh budaya luar yang terlalu dominan setelah keruntuhan kerajaan Majapahit.
"Layangan-layangan tradisional ini tidak hanya sekadar mainan, tetapi juga memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam bagi masyarakat Bali," tambah Anom.
Festival Layang-layang pertama kali digelar pada tahun 1979 di Subak Tanjung Bungkak, Denpasar, dan sejak itu, acara ini telah menjadi sorotan utama bagi warga setempat.
Bahkan setelah hampir 45 tahun, minat masyarakat terhadap layang-layang tidak pernah pudar.
Terbukti dengan semakin banyaknya kompetisi dan acara terkait layang-layang yang diadakan, terutama di Bali.
Tidak hanya sebagai hiburan semata, layang-layang juga memiliki nilai spiritual yang mendalam bagi masyarakat Bali.
Dipercaya sebagai perwujudan Dewa Rare Angon, layangan menjadi bagian dari upacara-upacara keagamaan dan adat yang penting di Bali.
Selain itu, bentuk-bentuk tradisional layang-layang seperti Be-bean, Pecukan, dan Janggan, tetap dijaga keasliannya oleh masyarakat Bali.
Meskipun teknologi telah berkembang pesat, tradisi ini tetap dihormati dan dilestarikan oleh generasi muda Bali.
“Layangan bukan sekadar mainan, tetapi simbol dari kekayaan budaya dan spiritualitas Bali yang telah ada selama berabad-abad,” kata Anom.
Dengan semangat pelestarian budaya yang kuat, Festival Layang-layang di Bali tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga momentum untuk merayakan warisan budaya yang membanggakan.
Jenis-jenis Layang-layang Tradisional Bali
Terdapat tiga jenis layang-layang tradisional Bali yang terkenal, yaitu:
- Bebean: Memiliki bentuk seperti ikan dan menghasilkan suara merdu saat diterbangkan.
- Pecukan: Bentuknya sederhana dengan empat sudut yang menekuk, melambangkan kegesitan dan keahlian dalam menerbangkan.
- Janggan: Layang-layang sakral yang melambangkan naga penjaga kestabilan dunia. Memiliki ekor panjang yang indah dan membutuhkan ritual khusus sebelum diterbangkan.
Baca Juga: Kisah Spiritual di Pura Luhur Pucak Petali, Destinasi Mistis di Bali yang Penuh dengan Keunikan
Dampak Positif Tradisi Melayangan
Tradisi melayangan memiliki banyak dampak positif, di antaranya:
- Melestarikan budaya dan tradisi Bali.
- Memperkuat rasa kebersamaan dan kekeluargaan.
- Meningkatkan kreativitas dan keahlian dalam membuat dan menerbangkan layang-layang.
- Menjadi daya tarik wisata yang unik dan menarik.