BALI EXPRESS - Caru Panca Sata merupakan salah satu ritual suci dalam agama Hindu. Upacara ini dilakukan dengan mempersembahkan lima ekor ayam (panca sata) yang mewakili lima penjuru mata angin.
Ritual ini bertujuan untuk menyelaraskan hubungan antara manusia dengan alam semesta, khususnya untuk mengharmoniskan para roh dari lima arah yang berbeda, yaitu
- Bhuta Jangitan dari arah Timur,
- Bhuta Abang/merah (Bhuta Langkir) dari arah Selatan,
- Bhuta Kuning (Bhuta Lembukanya) dari arah Barat,
- Bhuta Ireng/hitam (Bhuta Taruna) dari arah Utara,
- Bhuta Tiga Sakti di Tengah.
Pelaksanaan upacara Caru Panca Sata ini dipercayakan kepada jro mangku sonteng yang telah menjalani upacara eka jati untuk kesucian diri dalam mempersembahkan kurban suci.
Landasan pelaksanaan Caru Panca Sata dalam agama Hindu , khususnya di Bali mengacu pada kitab Bhagawadgita dan Lontar Carcaning Caru, yang menyatakan pentingnya perputaran Cakra Yadnya, yakni berkurban secara timbal balik antara Tuhan dan manusia.
Bhagawad Gita menyebutkan bahwa seseorang yang tidak ikut serta dalam perputaran ini, hidupnya berada dalam kehampaan dan keserakahan semata.
Ritual Caru Panca Sata memakai sarana lima jenis/warna ayam yang disembelih (putih, biying, putih syungan, hitam dan brumbun), bayang-bayang/layang-layang “kulit, bulu, kepala, kaki dan sayap tetap utuh melekat pada kulit”.
Darah ayam yang disembelih itu dipakai untuk melengkapi tetandingan dan sebagai campuran urab barak.
Masing-masing daging ayam diolah menjadi sate lembat, ususnya diolah menjadi sate asem dan serapah, urab barak, urab putih, sayur, garam, balung.
Jumlah sate dan bayuhan dari masing-masing ayam ditentukan dengan urip/neptu (hitungan angka mistis berdasarkan arah mata angin), seperti: (1) Ayam putih dengan urip 5, arah Timur; (2) ayam biying ‘merah’ urip 9, arah Selatan; (3) ayam putih siyungan urip 7, arah Barat; (4) ayam hitam urip 4, arah Utara dan (5) ayam brumbun urip 8, arah Tengah.
Sate dan aneka olahan tersebut ditata dan dibentangkan di atas sengkui, di lengkapi dengan sorohan banten caru, tumpeng dan nasi menurut warna, urip masing- masing ayam atau arah mata angin.
Masing-masing dilengkapi dengan sanggah cucuk, di atasnya diletakkan banten dananan.
Tetabuhan (arak, berem dan air) dimasukkan dalam cambeng.
Banten yang digunakan juga dilengkapi dengan soroan dan persembahan kepada Surya sebagai simbol kesucian.
Caru Panca Sata tidak hanya sebuah ritual, namun juga merupakan ekspresi dari kepercayaan dalam menjaga keseimbangan spiritual serta hubungan harmonis antara manusia dan alam semesta.
Tujuan Upacara Caru Panca Sata:
- Menjaga kestabilan perputaran roda cakra alam
- Mengharmoniskan para bhuta kala dari lima penjuru mata angin
- Membersihkan diri dari pengaruh negatif
- Memohon keselamatan dan kesejahteraan.
Manfaat Upacara Caru Panca Sata:
- Menjaga keseimbangan alam semesta
- Menjauhkan diri dari pengaruh negatif
- Membawa keselamatan dan kesejahteraan
- Meningkatkan spiritualitas
Sumber sastra pelaksanaan Caru Panca Sata adalah:
- Bhagawadgita
- Lontar Carcaning Caru