Benarkah Dewa Brahma Lebih Jarang Dipuja umat Hindu? Legenda Siwa Lingga dan Fakta di Bali
I Putu Suyatra• Senin, 1 April 2024 | 18:43 WIB
Pura Andakasa di Angantelu, Bali, yang dikhususkan bagi pemuja Dewa Brahma
BALI EXPRESS - Dewa Brahma, salah satu Trimurti dalam Hindu, dikenal sebagai dewa pencipta. Namun, dibandingkan dengan Dewa Wisnu dan Dewa Siwa, pemujaan terhadap Dewa Brahma disebut terbilang jarang. Legenda Siwa Lingga dan fakta di Bali menjadi dua faktor yang menarik untuk ditelusuri.
Legenda Siwa Lingga dan Kutukan Dewa Siwa
Menurut narasi dalam Kurma Purana, Vayu Purana, dan Siwa Purana, legenda Siwa Lingga menceritakan tentang perlombaan antara Dewa Brahma dan Dewa Wisnu untuk menemukan ujung Lingga yang melambangkan kemahakuasaan Dewa Siwa.
Bahkan, untuk bisa memuja dewa lainnya termasuk Siwa dan Wisnu, lanjut Pamangku Pura Kawitan Dukuh Aji Patapan, Desa Kedisan, Kintamani ini, umat mesti terlebih dahulu memuja Brahma.
“Setiap ucapan yang keluar sesungguhnya adalah ucapan dari Brahma. Setiap sabda atau suara adalah Brahma itu sendiri, dan di Veda dinyatakan Brahma berstana di lidah atau suara,” terang Jro Mangku Danu.
Brahma dipuja sebagai sumber suara dan awal mula segala mantra.
Meskipun namanya tidak disebut secara langsung, Brahma dipuja melalui mantra suci "Om" dan kata "Swaha" yang mengakhiri mantra.
Kata "Swaha" melambangkan Agni, dewa api yang merupakan salah satu aspek Brahma.
“Swaha adalah Sakti dari Agni yakni Brahma. Tanpa kata Swaha, mantram kehilangan tuahnya. Makanya, mantram diawali oleh OM (AUM) dan ditutup dengan Swaha,” jelasnya.
Kesimpulan
Legenda Siwa Lingga dan fakta di Bali memberikan gambaran tentang mengapa Dewa Brahma lebih jarang dipuja.